SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) menemukan air di sejumlah wilayah selatan tidak layak dikonsumsi. Hasil pemeriksaan menunjukkan air sudah terasa asin dan payau dengan kadar garam (NaCl) yang tinggi.

Kepala Dinas Kesehatan Kotim Umar Kaderi mengatakan, temuan tersebut berawal dari laporan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) pada 9 September 2026.

Berdasarkan pemeriksaan sampel air yang dilakukan PDAM, air di wilayah selatan Kotim dinyatakan belum layak untuk diminum dan hanya dapat digunakan untuk kebutuhan mandi, cuci, kakus (MCK).

"Pada 9 September kami dapat laporan dari PDAM, hasil pemeriksaan sampel air di tempat mereka bahwa air daerah selatan tidak layak untuk diminum, hanya layak untuk MCK," ujarnya, Senin, 14 September 2026.

Dinkes Kotim langsung mengambil sampel air di sejumlah lokasi, yakni Pelangsia, Bagendang, dan Semuda. Sampel tersebut kemudian diperiksa untuk memastikan kondisi kualitas air yang digunakan masyarakat.

Hasil pemeriksaan Dinkes menguatkan temuan sebelumnya. Air di wilayah selatan dinilai belum memenuhi kelayakan untuk dikonsumsi karena sudah mengalami peningkatan kadar garam sehingga menjadi asin dan payau.

"Memang benar air di daerah selatan ini belum layak untuk minum karena sudah asin dan payau. Untuk daerah Pelangsia masih lumayan bagus, tapi belum layak juga untuk diminum," jelasnya.

Umar mengingatkan, tingginya kadar garam atau natrium klorida (NaCl) dalam air perlu menjadi perhatian, khususnya bagi masyarakat yang memiliki kondisi kesehatan tertentu seperti hipertensi.

Konsumsi air dengan kandungan garam tinggi berpotensi memberikan dampak terhadap masyarakat yang membutuhkan penanganan tekanan darah.

"Nah, ini tingginya garam (NaCl)-nya, ada kemungkinan untuk masyarakat kita yang perlu penanganan hipertensi dan sebagainya, ini yang akan berdampak," katanya.

Ia menambahkan, untuk air yang masih dalam kondisi payau, pengolahan dengan cara direbus dapat menjadi salah satu langkah, namun kondisi tersebut tetap perlu diantisipasi karena air yang tersedia di sejumlah wilayah belum ideal sebagai sumber air minum.

Dinkes Kotim pun mengusulkan adanya langkah antisipasi untuk memenuhi kebutuhan air bersih masyarakat di wilayah selatan. Salah satunya dengan mempertimbangkan pasokan air bersih dari Sampit ke wilayah tersebut.

"Kita perlu antisipasi bagaimana pasokan air bersih yang dari Sampit ke daerah selatan. Barangkali itu yang kami sampaikan kepada Bupati," pungkas Umar.

Kondisi ini menjadi perhatian di tengah periode kering yang masih terjadi di sejumlah wilayah Kotim. Pemerintah daerah diharapkan dapat segera menyiapkan langkah pemenuhan air bersih agar masyarakat tetap mendapatkan air yang aman untuk kebutuhan sehari-hari dan konsumsi. (DEVI/R)