PANGKALAN BUN –

BORNEONEWS, Pangkalan Bun – Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Barat memperkuat penanganan kebakaran hutan dan lahan di Desa Sungai Cabang, Kecamatan Kumai, karena wilayah tersebut berbatasan langsung dengan kawasan Taman Nasional Tanjung Puting (TNTP).

Bupati Kobar Nurhidayah mengatakan, penguatan penanganan diperlukan untuk mencegah api meluas ke kawasan konservasi, terlebih terdapat sejumlah lokasi yang sulit dijangkau petugas.

“Karena desa tersebut berbatasan langsung dengan kawasan Taman Nasional Tanjung Puting, serta di desa itu terdapat lokasi yang sulit dijangkau,” kata Nurhidayah di Pangkalan Bun, Senin, 14 September 2026.

Selain memperkuat personel di lapangan, Nurhidayah meminta aparatur desa melibatkan masyarakat secara aktif dalam penanganan karhutla.

Aparatur desa diharapkan dapat menjadi penggerak sekaligus koordinator masyarakat ketika muncul kebakaran agar penanganan dapat dilakukan lebih cepat.

Nurhidayah juga meminta kondisi kesehatan personel yang bertugas di lapangan tetap diperhatikan. Penanganan karhutla membutuhkan waktu panjang dan kondisi fisik yang prima, terutama di tengah paparan asap dan medan yang sulit.

Berdasarkan rekapitulasi Posko Penanganan Karhutla Kobar hingga 8 September 2026, tercatat 2.711 titik panas atau hotspot sejak awal tahun.

Sementara luas lahan yang tercatat terbakar sejak 1 Januari 2026 mencapai 1.958,73 hektare, dengan kejadian karhutla terbanyak terjadi pada Agustus.

Dalam penanganan karhutla, Kobar mengerahkan kekuatan 531 personel, 60 unit sarana dan prasarana serta melibatkan 19 unsur dan instansi.

Personel tersebut berasal dari Polres Kobar, Brigif, BPBD, Masyarakat Peduli Api, TNI AU, tenaga kesehatan, Huma Singgah Itah, Kodim 1014, Dinas Sosial/Tagana, Damkar, RAPI, ASN dari berbagai perangkat daerah serta unsur lainnya.

Nurhidayah mengatakan penanganan karhutla secara umum telah berjalan sesuai standar operasional prosedur.

Koordinasi dan komunikasi antarpihak terus diperkuat, terutama untuk menjangkau titik kebakaran yang sulit diakses.

“Untuk penanganan ini, memang kita perlu gotong royong dalam menjaga kondisi kualitas udara di Kobar tetap sehat bagi masyarakat. Dengan kekompakan, kita akan lebih mudah menangani berbagai kendala yang ada,” ujar Nurhidayah.