TAMIANG LAYANG –

BORNEONEWS, Tamiang Layang – Ancaman kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Kabupaten Barito Timur belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Hingga Senin, 14 September 2026, tercatat 465 kejadian Karhutla dengan total luas lahan yang terbakar mencapai 667,9 hektare.

Data tersebut tercatat dalam dashboard Badan Penanggulangan Bencana Daerah dan Pemadam Kebakaran (BPBD Damkar) Barito Timur. Tingginya angka kejadian dan luasan lahan terbakar menunjukkan bahwa Karhutla masih menjadi salah satu ancaman yang perlu diwaspadai di wilayah tersebut.

Situasi pada September bahkan menjadi perhatian tersendiri. Dalam kurun waktu hingga Senin, 14 September 2026, sudah terjadi 72 kejadian Karhutla dengan luas lahan terbakar mencapai 207,4 hektare. Artinya, meski baru memasuki pertengahan bulan, kebakaran telah menghanguskan lahan dalam luasan yang cukup besar.

Jika dibandingkan dengan Agustus, intensitas Karhutla pada September masih tergolong tinggi. Sepanjang Agustus tercatat 343 kejadian dengan luas lahan terbakar mencapai 408,3 hektare. Tingginya angka pada dua bulan terakhir memperlihatkan bahwa ancaman kebakaran belum sepenuhnya terkendali.

Dari sisi jumlah kejadian, Kecamatan Paju Epat menjadi wilayah dengan catatan tertinggi, yakni 100 kejadian. Berikutnya Pematang Karau 93 kejadian, Karusen Janang 82 kejadian, Dusun Timur 73 kejadian, Paku 39 kejadian, Raren Batuah 27 kejadian, Dusun Tengah 17 kejadian, Awang 16 kejadian dan Patangkep Tutui 13 kejadian.

Sementara berdasarkan luas lahan yang terbakar, Kecamatan Pematang Karau berada di posisi teratas dengan 151,8 hektare. Kemudian Karusen Janang 146,5 hektare, Paju Epat 119,2 hektare, Patangkep Tutui 68,8 hektare, Dusun Timur 64,7 hektare dan Raren Batuah 64,5 hektare.

Adapun luasan lahan terbakar di Kecamatan Paku tercatat 17,4 hektare, Awang 13,3 hektare dan Dusun Tengah 8,4 hektare. Perbedaan antara jumlah kejadian dan luas lahan terbakar tersebut menunjukkan bahwa tingginya frekuensi kejadian tidak selalu berbanding lurus dengan luas lahan yang terdampak.

Kabid Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Damkar Kabupaten Barito Timur, Parluhutan Tampubolon, mengatakan perkembangan Karhutla hingga saat ini harus menjadi perhatian bersama. Menurutnya, kewaspadaan tidak boleh menurun meskipun penanganan terhadap sejumlah titik kebakaran terus dilakukan.

“Melihat perkembangan sampai hari ini, kita perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap Karhutla. Data menunjukkan luas lahan yang terbakar sudah mencapai 667,9 hektare dengan 465 kejadian. Karena itu, pencegahan dan kesiapsiagaan harus terus diperkuat, terutama di wilayah yang rawan terjadi kebakaran,” ujar Parluhutan.

Data bulanan menunjukkan Karhutla mulai mengalami peningkatan setelah relatif rendah pada awal tahun. Pada Februari tercatat dua kejadian dengan luas 0,5 hektare, kemudian Maret tujuh kejadian dengan luas 2,1 hektare. April mencatat tiga kejadian dengan luas 26 hektare, sedangkan Juni terdapat satu kejadian.

Peningkatan mulai terlihat pada Juli dengan 37 kejadian dan luas lahan terbakar 23,6 hektare. Kondisi kemudian meningkat tajam pada Agustus yang mencatat 343 kejadian dengan total luas lahan terbakar 408,3 hektare.

Memasuki September, laju kejadian Karhutla masih tinggi. Sebanyak 72 kejadian dengan luas 207,4 hektare tercatat hanya sampai 14 September 2026. Perkembangan tersebut menjadi sinyal bahwa potensi kebakaran masih perlu diantisipasi secara serius hingga memasuki akhir bulan.

Parluhutan menegaskan, upaya menghadapi Karhutla tidak cukup hanya mengandalkan penanganan setelah api muncul. Pencegahan di tingkat masyarakat, kesiapsiagaan personel serta deteksi dan penanganan dini menjadi faktor penting untuk mencegah api berkembang dan meluas.

“Jangan sampai kita baru bergerak setelah api membesar. Pencegahan dan deteksi dini harus menjadi perhatian bersama. Masyarakat juga kami harapkan segera melaporkan apabila menemukan titik api, sehingga bisa ditangani secepat mungkin,” katanya.

Dengan total 465 kejadian dan 667,9 hektare lahan terbakar sepanjang 2026 hingga 14 September, Barito Timur masih menghadapi pekerjaan besar untuk menekan laju Karhutla. Terlebih, angka September yang sudah mencapai 207,4 hektare menunjukkan bahwa ancaman kebakaran masih berlangsung dan membutuhkan kewaspadaan seluruh pihak. (AGUSTINUS BOLE MALO/j)