TAMIANG LAYANG –

BORNEONEWS, Tamiang Layang – Dampak kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Kabupaten Barito Timur mulai terasa pada berbagai sektor kehidupan masyarakat. Selain kualitas udara yang sempat masuk kategori berbahaya, Dashboard Karhutla BPBD Damkar Barito Timur mencatat sebanyak 1.360 jiwa terdampak infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).

Data tersebut merupakan akumulasi 212 kejadian ISPA yang tercatat dalam dashboard hingga data terbaru. Dari keseluruhan kasus tersebut, tidak terdapat korban jiwa.

Kabid Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Damkar Barito Timur, Parluhutan Tampubolon, membenarkan bahwa data penyakit yang tercatat dalam dashboard tersebut merupakan kasus ISPA.

“Data yang tercatat sebanyak 212 kejadian dengan 1.360 jiwa terdampak itu merupakan kasus ISPA,” ujarnya, Senin, 14 September 2026.

Sebaran kasus menunjukkan dampak kesehatan tidak merata di seluruh wilayah. Kecamatan Dusun Timur menjadi wilayah dengan jumlah warga terdampak ISPA terbanyak, yakni 420 jiwa dari 40 kejadian.

Berikutnya, Kecamatan Pematang Karau mencatat 176 jiwa terdampak dari 20 kejadian, Paju Epat sebanyak 130 jiwa dari 19 kejadian, Karusen Janang 106 jiwa dari 20 kejadian, serta Paku sebanyak 96 jiwa dari 17 kejadian.

Besarnya jumlah warga yang terdampak tersebut terjadi ketika kualitas udara di sejumlah wilayah Barito Timur mengalami perubahan ekstrem. Dalam periode 8–14 September 2026, ISPU bahkan sempat menembus angka 566 di Kecamatan Dusun Timur pada Sabtu, 12 September 2026, yang masuk kategori berbahaya.

Padahal, dua hari sebelumnya kondisi udara di wilayah tersebut masih relatif baik. Pada Kamis, 10 September 2026, ISPU tercatat 33 atau kategori baik dan meningkat menjadi 41 pada Jumat, 11 September 2026. Namun, sehari kemudian angkanya melonjak tajam hingga 566.

Lonjakan juga terjadi di Kecamatan Karusen Janang. ISPU tercatat 425 atau kategori berbahaya pada Kamis, 10 September 2026, kemudian turun menjadi 69 atau kategori sedang pada Jumat, 11 September, sebelum kembali meningkat menjadi 319 atau kategori berbahaya pada Sabtu, 12 September 2026.

Sementara Kecamatan Paju Epat sempat mencatat ISPU 271 atau kategori sangat tidak sehat pada Selasa, 8 September 2026. Kondisi berbeda terlihat di Kecamatan Patangkep Tutui yang relatif stabil dalam kategori baik, dengan angka 34 pada 9 September, 36 pada 10 September, 34 pada 11 September, dan 30 pada 12 September 2026.

Dampak memburuknya kualitas udara juga telah merembet ke sektor pendidikan. Dinas Pendidikan Barito Timur sebelumnya mengatur ulang proses pembelajaran mulai Senin, 7 September 2026, dengan menyesuaikan pelaksanaan pembelajaran jarak jauh (PJJ) dan pembelajaran tatap muka (PTM) berdasarkan kondisi kualitas udara di masing-masing wilayah.

Kebijakan tersebut melanjutkan langkah sebelumnya ketika PJJ diterapkan pada 1–5 September 2026 sebagai respons terhadap kabut asap. Sekolah diminta menyesuaikan metode pembelajaran dengan kondisi kualitas udara di wilayah masing-masing untuk memberikan perlindungan kepada peserta didik.

Parluhutan mengatakan perubahan kualitas udara perlu terus diikuti karena kondisi di setiap wilayah dapat berubah dengan cepat.

“Kita perlu melihat perkembangan kualitas udara dari hari ke hari. Ketika terjadi peningkatan ISPU yang signifikan, tentu kondisi tersebut harus menjadi perhatian dan pemantauan di lapangan perlu ditingkatkan,” katanya.

Rangkaian data tersebut memperlihatkan bahwa Karhutla di Barito Timur tidak hanya meninggalkan persoalan lahan yang terbakar. Kabut asap yang ditimbulkan telah beriringan dengan meningkatnya dampak kesehatan masyarakat dan memaksa sektor pendidikan menyesuaikan aktivitas belajar mengajar.

Dengan ISPU yang di sejumlah wilayah dapat berubah dari kategori baik menjadi berbahaya dalam waktu singkat, pemantauan kualitas udara menjadi bagian penting dalam menentukan langkah perlindungan masyarakat, khususnya kelompok rentan dan peserta didik. (AGUSTINUS BOLE MALO/j)