TAMIANG LAYANG –

BORNEONEWS, Tamiang Layang – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali terjadi di Kabupaten Barito Timur. Kali ini, kebakaran melanda wilayah Desa Telang, Kecamatan Paju Epat, Senin, 14 September 2026.

Karhutla tersebut membakar vegetasi berupa semak belukar dan lahan gambut dengan estimasi luas mencapai 2,5 hektare. Kondisi lahan yang didominasi material mudah terbakar menjadi salah satu tantangan bagi tim di lapangan dalam memastikan api benar-benar terkendali.

Penanganan dilakukan secara gabungan dengan melibatkan Brigade Karhutla KPHP Barito Hilir, Posko Terpadu Karhutla Kecamatan Paju Epat, TNI, Relawan 495 Paju Epat, serta PT ISA. Tim bergerak setelah menerima laporan dari TRC Barito Timur.

Kasie Perlindungan Hutan dan Pemberdayaan Masyarakat KPHP Barito Hilir, Deddy Prayitno, mengatakan pemadaman dilakukan dengan mengerahkan personel dan sarana dari berbagai unsur yang berada di lokasi.

“Pemadaman kita lakukan bersama-sama dengan unsur yang ada di lapangan. Dengan dukungan personel dan sarana yang tersedia, api berhasil dipadamkan,” tuturnya.

Operasi pemadaman berlangsung selama hampir tiga jam, yakni sejak pukul 14.39 WIB hingga 17.25 WIB. Dari estimasi luas kebakaran sekitar 2,5 hektare, tim gabungan berhasil melakukan pemadaman pada area sekitar 2 hektare.

Karakteristik lokasi yang berupa semak belukar dan gambut membuat proses pemadaman membutuhkan penanganan intensif. Tim tidak hanya berupaya menghentikan kobaran api di permukaan, tetapi juga memastikan titik-titik api dapat dikendalikan agar tidak kembali menjalar ke area di sekitarnya.

Ketersediaan sumber air menjadi salah satu faktor penting dalam mendukung operasi pemadaman. Untuk memperkuat suplai air, KPHP Barito Hilir mengerahkan satu mobil tangki berkapasitas 5.000 liter, sementara PT ISA menurunkan satu truk water supply dan TNI mengerahkan satu mobil pemadam.

Berbagai sarana pendukung juga digunakan selama operasi berlangsung. Peralatan tersebut meliputi satu mobil patroli pengendalian karhutla, satu truk tangki, satu mobil slip on, satu mobil pengamanan hutan, 22 selang antar, dua nozzle, satu connector Y, dua spiral, serta dua unit mesin Waterax Mark 3 dan Waterax Mark 3 Watson.

Menurut Deddy, dukungan berbagai unsur tersebut menjadi bagian penting dalam mempercepat penanganan kebakaran. Koordinasi di lapangan diperlukan agar personel dan peralatan yang tersedia dapat digunakan secara efektif menghadapi kondisi kebakaran.

“Keterlibatan semua unsur sangat membantu dalam penanganan di lapangan. Kita berupaya agar api segera dikendalikan sehingga tidak meluas ke wilayah lainnya,” ujarnya.

Untuk menunjang komunikasi dan koordinasi, personel juga menggunakan enam unit handy talky (HT) serta lima unit telepon seluler Android selama operasi pemadaman.

Setelah proses penanganan dilakukan, tim melaporkan api berhasil dipadamkan. Lokasi kebakaran tersebut berada di Areal Penggunaan Lain (APL).

Karhutla di Desa Telang menunjukkan bahwa kondisi lahan menjadi salah satu faktor yang menentukan tingkat kesulitan penanganan di lapangan. Keberadaan semak belukar dan gambut, ditambah kebutuhan suplai air, membuat respons cepat serta dukungan sarana dan koordinasi lintas unsur menjadi penting untuk mencegah api berkembang lebih luas. (AGUSTINUS BOLE MALO/j)