PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya – Antrean panjang bahan bakar minyak (BBM) kembali terjadi di sejumlah SPBU Kota Palangka Raya dan mulai dikeluhkan pedagang karena mengganggu aktivitas usaha serta menambah biaya operasional.

Kondisi tersebut terjadi bersamaan dengan masih adanya kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla), sehingga pedagang menghadapi dua tekanan sekaligus dalam menjalankan aktivitas sehari-hari.

Berdasarkan keterangan pedagang, harga BBM eceran di sejumlah tempat mencapai sekitar Rp19.000 per liter untuk Pertamax dan Rp15.000 per liter untuk Pertalite.

Harga tersebut merupakan harga di tingkat pengecer, bukan harga resmi SPBU.

Salah seorang pedagang, Rahmat mengatakan, antrean yang kembali panjang membuat waktu kerja banyak tersita.

“Sekarang antrean BBM kembali panjang. Harga juga mahal, Pertamax sekitar Rp19 ribu dan Pertalite Rp15 ribu. Kami pedagang jadi harus menghitung ulang biaya operasional,” kata Rahmat, Selasa, 15 September 2026.

Menurutnya, persoalan BBM berdampak langsung terhadap aktivitas perdagangan karena kendaraan menjadi bagian penting dalam mengambil maupun mengantar barang.

“Kalau mengantre lama, kami terlambat berjualan atau mengambil barang. Biaya bensin bertambah, sementara pendapatan belum tentu naik. Pada akhirnya harga barang juga bisa ikut terdampak,” ujarnya.

Keluhan juga disampaikan pedagang lain, Fauji, yang menilai kabut asap semakin memperberat aktivitas masyarakat.

Pedagang tetap harus berada di luar rumah untuk mencari nafkah meskipun kondisi udara dinilai mengganggu kenyamanan dan kesehatan.

“Sudah antre BBM panjang, sekarang kabut asap juga ada. Kami tetap harus keluar berjualan, tetapi menghirup asap terus tentu tidak baik untuk kesehatan,” ujar Fauji.

Ia berharap pemerintah dan Pertamina memastikan pasokan serta distribusi BBM berjalan lancar agar antrean tidak berlarut-larut.

Pengaturan antrean dan pelayanan di SPBU juga dinilai perlu diperbaiki agar masyarakat tidak menghabiskan terlalu banyak waktu untuk mendapatkan bahan bakar.

Fauji juga meminta pemerintah memperhatikan dampak kenaikan biaya operasional terhadap pedagang kecil, terutama di tengah kondisi karhutla yang masih memengaruhi aktivitas masyarakat.

Menurutnya, kelancaran distribusi BBM dan penanganan kabut asap menjadi penting agar aktivitas ekonomi di Palangka Raya tetap berjalan. (MARINI/j)