SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit – Potensi pertumbuhan awan hujan di wilayah Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), dalam sepekan ke depan diperkirakan masih relatif kecil. Kondisi tersebut terutama terjadi di wilayah bagian selatan Kotim.

Kepala BMKG Stasiun Meteorologi Haji Asan Sampit, Mulyono Leo Nardo, mengatakan pertumbuhan awan hujan justru lebih berpeluang terjadi di wilayah utara Kotim. Namun, peluang tersebut masih tergolong rendah.

“Untuk potensi pertumbuhan awan hujan untuk satu minggu ke depan masih kecil di daerah wilayah selatan Kotawaringin Timur, lebih cenderung di daerah utara. Dan itu pun potensinya masih di bawah 50 sampai 70 persen,” ujar Mulyono, pada rapat koordinasi penanggulangan bencana karhutla, Selasa, 15 September 2026.

Menurutnya, kondisi tersebut juga membuat upaya modifikasi cuaca untuk memicu turunnya hujan belum akan memberikan hasil yang signifikan.

“Jikalau itu dipaksakan untuk modifikasi cuaca, hasilnya masih sangat kurang signifikan,” katanya.

Ia menjelaskan, kondisi potensi hujan tersebut sejalan dengan hasil analisis pertumbuhan awan hujan. Wilayah utara Kotim memiliki peluang lebih besar dibandingkan wilayah selatan, meskipun secara umum potensi hujan masih rendah.

“Potensi hujannya masih sangat kecil, lebih cenderung ke daerah utara,” jelasnya.

Sementara itu, memasuki September 2026, BMKG memprediksi kondisi cuaca di Kotim masih didominasi curah hujan rendah. Kondisi ini sejalan dengan prediksi bergesernya puncak musim kemarau Kotim ke September.

Ia menyebut curah hujan di Kotim pada September diprakirakan berada pada kisaran 0–20 milimeter hingga 20–50 milimeter.

“Di Kotawaringin Timur di bulan September ini kita masih diprediksikan dengan curah hujan masih rendah, 0 sampai 20 milimeter sampai 20 sampai 50 milimeter di daerah Kotawaringin Timur,” ungkapnya.

Selain curah hujan yang rendah, sifat hujan pada September juga diprakirakan berada di bawah normal.

Dengan kondisi tersebut, masyarakat Kotim diminta tetap mewaspadai dampak musim kemarau, khususnya potensi kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). BMKG sebelumnya juga telah mengingatkan bahwa kondisi kekeringan di Kotim berpotensi meningkat selama periode kemarau.

“Jadi lebih kering seperti di bulan September ini,” pungkas Mulyono. (DEVI/j)