BORNEONEWS, Kuala Kapuas - Sampah plastik yang kerap dianggap tidak berguna diubah menjadi media pembelajaran di MTsN 2 Kapuas. Melalui program ecobrick, murid diajak tidak sekadar menjaga kebersihan madrasah, tetapi juga belajar mengelola sampah secara bertanggung jawab.
Program tersebut kembali digalakkan oleh Wakil Kepala Madrasah Bidang Sarana dan Prasarana sekaligus Pembina Sispala MTsN 2 Kapuas, M. Sofya Rusmawan. Murid diarahkan mengumpulkan sampah plastik dari lingkungan madrasah maupun sampah yang mereka hasilkan sehari-hari untuk kemudian dipilah dan dimanfaatkan sebagai bahan ecobrick.
Ecobrick dibuat dengan memasukkan sampah plastik yang telah dibersihkan ke dalam botol plastik, lalu memadatkannya hingga menjadi botol yang kuat. Hasilnya dapat dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan sederhana, seperti tempat duduk, furnitur, pembatas, hingga karya kreatif lainnya.
Bagi Sofya, kegiatan tersebut memiliki tujuan yang lebih luas daripada sekadar mengurangi timbunan sampah plastik. Ecobrick menjadi cara untuk memberikan pengalaman langsung kepada murid bahwa menjaga lingkungan dapat dimulai dari kebiasaan sederhana.
“Ecobrick bukan sekadar kegiatan mengumpulkan dan memasukkan sampah plastik ke dalam botol. Lebih dari itu, kita ingin menanamkan kesadaran kepada murid bahwa sampah yang dikelola dengan baik dapat memberikan manfaat dan memiliki nilai guna,” ungkapnya, Selasa, 15 September 2026.
Melalui kegiatan itu, murid juga dibiasakan memilah sampah, mengurangi penggunaan plastik, serta tidak membuang sampah sembarangan. Sofya berharap kebiasaan tersebut tidak berhenti ketika kegiatan ecobrick selesai, tetapi menjadi bagian dari keseharian murid.
“Kita berharap anak-anak terbiasa menjaga lingkungan, mulai dari hal-hal sederhana seperti tidak membuang sampah sembarangan, memilah sampah, hingga memanfaatkan sampah plastik menjadi ecobrick. Ini bagian dari proses membentuk generasi yang peduli dan bertanggung jawab terhadap lingkungan,” jelasnya.
MTsN 2 Kapuas berharap program ecobrick dapat dilakukan secara konsisten dan melibatkan semakin banyak warga madrasah. Dengan cara tersebut, pengelolaan sampah tidak hanya menjadi kegiatan sesaat, tetapi berkembang menjadi kebiasaan dan budaya menjaga lingkungan.
Dari botol berisi sampah plastik, para murid belajar bahwa kepedulian terhadap lingkungan dapat tumbuh dari tindakan kecil yang dilakukan secara bersama-sama. (SABRIANOOR/j)









