TAMIANG LAYANG –

BORNEONEWS, Tamiang Layang – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih terus terjadi di Kabupaten Barito Timur, Kalimantan Tengah. Kali ini, kobaran api melanda lahan masyarakat di Desa Pulau Patai, Kecamatan Dusun Timur, Selasa, 15 September 2026.

Kebakaran yang menghanguskan vegetasi berupa semak belukar dan pepohonan kayu tersebut diperkirakan membakar lahan seluas kurang lebih satu hektare. Kondisi lahan yang berupa tanah gambut membuat penanganan membutuhkan kewaspadaan dan dukungan peralatan pemadaman yang memadai.

Informasi mengenai kebakaran diterima petugas dari Kepala Desa Pulau Patai melalui WhatsApp. Menindaklanjuti laporan tersebut, Tim Reaksi Cepat Penanggulangan Bencana (TRC-PB) BPBD dan Damkar Barito Timur bersama unsur gabungan bergerak menuju lokasi dari Posko Siaga Karhutla Tamiang Layang.

“Informasi kebakaran kami terima dari Kepala Desa Pulau Patai melalui WhatsApp. Tim kemudian bergerak menuju lokasi dan menempuh waktu kurang lebih 20 menit,” kata Kabid Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Damkar Barito Timur, Parluhutan Tampubolon.

Tim mulai bergerak pada pukul 13.48 WIB dan berjibaku melakukan pemadaman hingga sekitar pukul 17.20 WIB. Sumber air untuk mendukung operasi pemadaman berasal dari Sungai Sirau yang berada di Desa Pulau Patai.

Namun, proses pemadaman tidak berlangsung mudah. Salah satu kendala yang dihadapi petugas di lapangan adalah jarak antara sumber air dan titik api yang cukup jauh sehingga jangkauan selang menjadi terbatas. Kondisi tersebut membuat personel harus mengatur strategi agar suplai air tetap dapat mencapai area yang terbakar.

“Kendalanya di lapangan adalah jauhnya jangkauan selang menuju titik api dari sumber air. Karena itu, personel harus menyesuaikan penanganan dengan kondisi medan di lokasi,” ujar Parluhutan.

Operasi pemadaman melibatkan sembilan personel TRC-BPBD Barito Timur serta anggota Polres Barito Timur, TNI dari Kodim 1012/Buntok, personel Yonif TP 924/Uria Mapas, Damkar Pemda Barito Timur, Relawan Matabu Jaya, Posko Terpadu Karhutla, Barito Timur, pemerintah desa dan warga setempat.

Untuk mendukung operasi, tim mengerahkan sejumlah sarana dan prasarana, antara lain mesin jinjing atau alkon, mobil operasional, tandon air berkapasitas 1.000 liter milik TRC-BPBD, tandon 1.200 liter dari TNI, unit mobil pemadam kebakaran, selang antar, nozzle, serta lima unit knapsack sprayer.

Setelah berjibaku selama lebih dari tiga jam, tim gabungan berhasil mengendalikan dan memadamkan api di area yang terbakar. Luasan lahan yang dipadamkan tercatat sekitar satu hektare dan kondisi di lokasi dinyatakan padam.

“Api berhasil dipadamkan. Setelah itu, sebelum meninggalkan lokasi, masing-masing instansi memastikan seluruh anggotanya lengkap. Setelah personel dipastikan lengkap, tim kembali ke tempat masing-masing,” tutur Parluhutan.

Keberhasilan pemadaman tersebut menjadi bagian dari respons cepat tim gabungan dalam menangani karhutla di Barito Timur. Kecepatan menerima informasi, mobilisasi personel, serta ketersediaan sumber air menjadi faktor penting untuk mencegah api meluas, terlebih kebakaran terjadi pada lahan dengan karakteristik gambut yang memiliki potensi menyimpan bara di bawah permukaan. (AGUSTINUS BOLE MALO/y)