BORNEONEWS, Palangka Raya – Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Kota Palangka Raya yang telah berlangsung sekitar tiga bulan menjadi perhatian serius Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD). Kondisi kemarau panjang membuat lahan semakin kering, namun faktor manusia juga disebut menjadi pemicu munculnya kebakaran.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Pelaksana BPBD Kota Palangka Raya, Hendrikus Satriya Budi, mengatakan kondisi Kota Palangka Raya saat ini sedang tidak baik-baik saja. Ancaman Karhutla masih perlu diwaspadai karena kondisi cuaca belum sepenuhnya mendukung pemulihan.
“Karhutla ini sudah berlangsung sekitar tiga bulan. Kondisi kita memang sedang tidak baik-baik saja,” kata Budi saat RDP dengan DPRD Palangka Raya di Ruang Rapat Paripurna, Rabu, 16 September 2026.
Menurut Budi, berdasarkan informasi cuaca yang diterima, musim kemarau diperkirakan masih berlangsung hingga pertengahan Oktober 2026. Setelah itu, wilayah Palangka Raya diperkirakan memasuki masa pancaroba dan diharapkan mulai mendapatkan hujan.
Namun, peluang hujan masih terbatas dan cenderung berupa hujan lokal. Kondisi tersebut membuat lahan yang telah kering tetap berisiko terbakar, terlebih jika terjadi pembakaran terbuka.
Budi menegaskan, Karhutla tidak dapat seluruhnya dikategorikan sebagai bencana alam. Kemarau panjang memang membuat lahan mudah terbakar, tetapi terdapat pula faktor manusia yang memicu kebakaran.
“Karhutla saat ini terjadi karena kemarau semakin panjang dan lahan kering. Tetapi ada pelaku yang tidak bertanggung jawab membakar secara sengaja. Ini bukan hanya bencana alam, tetapi ada faktor buatan manusia,” tegasnya.
Karena itu, menurut Budi, penanganan Karhutla tidak cukup hanya mengandalkan pemadaman ketika api sudah muncul. Pengawasan terhadap wilayah rawan, pencegahan pembakaran, patroli dan keterlibatan masyarakat harus diperkuat untuk memutus pemicu kebakaran sejak awal.
Di sisi lain, Budi menyebut langkah Pemerintah Kota Palangka Raya menetapkan status siaga merupakan bentuk mitigasi menghadapi ancaman Karhutla. Kesiapsiagaan tersebut dinilai penting karena kondisi kemarau dapat berubah dan berpotensi meningkatkan risiko kebakaran.
Ia mengingatkan masyarakat agar tidak membuka atau membersihkan lahan dengan cara membakar. Dalam kondisi lahan yang kering, api yang awalnya kecil dapat dengan cepat meluas dan menyulitkan proses pemadaman.
“Kalau kemarau masih berlangsung, kewaspadaan harus tetap dijaga. Jangan sampai ada pembakaran yang kemudian berkembang menjadi Karhutla,” katanya.
BPBD juga mendorong seluruh pihak memperkuat koordinasi dan kesiapsiagaan sampai kondisi cuaca benar-benar membaik. Penanganan Karhutla, menurutnya, harus dilakukan bersama karena pencegahan menjadi kunci untuk mencegah kebakaran kembali meluas. (MARINI/H)









