SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit - Dua unit helikopter water bombing direncanakan disiagakan di Sampit untuk membantu penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim). Helikopter akan diarahkan terutama ke titik api yang sulit dijangkau melalui jalur darat.

"Mudah-mudahan dengan upaya maksimal ini, dan saya terima informasi bahwa hari ini mudah-mudahan jadi juga ada di-dropping dua buah helikopter untuk water bombing," kata Bupati Kotim Halikinnor, Rabu, 16 September 2026.

Menurutnya, helikopter akan sangat membantu apabila terdapat titik api yang lokasinya jauh dan tidak memungkinkan ditangani secara efektif melalui pemadaman darat.

"Kita berharap kalau ada itu, khususnya pada titik api yang jangkauannya jauh, yang tidak mungkin kita laksanakan pemadaman lewat darat, maka kita berharap dengan bantuan water bombing," ujarnya.

Sementara itu, Koordinator Lapangan Rihel mengatakan, dua helikopter water bombing tersebut rencananya standby di Sampit. Penentuan lokasi penyiraman akan dilakukan berdasarkan identifikasi titik api dan koordinat yang diperoleh Satgas Udara bersama Satgas Darat.

"Helikopter water bombing rencanya standby di Sampit ada dua unit. Nanti kita dari Satgas Udara nanti kita identifikasi, nanti lokasi yang mana dan titik koordinat yang mana," kata Rihel.

Satgas Darat nantinya akan melakukan pengecekan kondisi di lapangan. Informasi titik api juga dapat diperoleh dari personel kepolisian di wilayah masing-masing sebelum koordinat diteruskan untuk penanganan melalui udara.

Selain itu, pemantauan titik api juga akan mengacu pada aplikasi SIPONGI. Titik yang terindikasi merah akan menjadi salah satu dasar untuk menentukan lokasi water bombing.

Untuk tahap awal, prioritas water bombing diarahkan ke titik-titik karhutla dalam radius wilayah kota yang sulit dijangkau. Namun, apabila kondisi memungkinkan, salah satu helikopter akan diarahkan ke wilayah pedalaman yang sulit dijangkau melalui jalur darat.

Rihel menjelaskan lama penempatan helikopter di Kotim akan menyesuaikan kondisi lapangan. Dukungan tersebut dapat berlangsung selama satu hingga dua minggu dan berpotensi diperpanjang oleh BNPB sesuai kebutuhan.

"Standby di Kotim tergantung daripada kondisi lapangan lah. Nanti tidak menutup kemungkinan itu bisa saja seminggu, dua minggu sampai dan juga perpanjangan dari BNPB juga," katanya.

Operasional helikopter tersebut merupakan dukungan BNPB melalui kerja sama dengan operator. Dengan demikian, Pemkab Kotim tidak mengeluarkan biaya operasional untuk penggunaan helikopter water bombing tersebut.

"Jadi kontraknya dan biaya itu semua full dari BNPB. Jadi Pemda tidak ada mengeluarkan biaya untuk operasionalnya," jelas Rihel.

Berdasarkan pemetaan melalui SIPONGI, sejumlah wilayah yang berpotensi menjadi sasaran water bombing antara lain kawasan Kotim bagian selatan, seperti Pulau Hanaut, Ujung Pandaran dan Bagendang. Titik di dalam kota yang sulit dijangkau Satgas Darat juga dapat diarahkan untuk penanganan udara.

Namun, pelaksanaan water bombing tetap bergantung pada kondisi cuaca. Jarak pandang menjadi salah satu faktor penting untuk memastikan helikopter dapat beroperasi dengan aman.

"Dengan kondisi dengan cuaca bagus, karena nanti visibility itu juga akan menentukan. Kalau misalnya cuma 1 km mungkin helikopter tidak bisa terbang, jadi minimal nanti visibility sekitar 5.000 meter atau 5 km," pungkas Rihel. (DEWI PATMALASARI/H)