TAMIANG LAYANG –

BORNEONEWS, Tamiang Layang – Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Kabupaten Barito Timur tidak hanya menghanguskan ratusan hektare lahan tetapi juga mulai memberi dampak nyata terhadap kesehatan masyarakat.

Hingga Rabu, 16 September 2026, Dashboard BPBD Damkar Kabupaten Barito Timur mencatat sebanyak 1.488 jiwa terdampak penyakit dalam 233 kejadian wabah penyakit. Pada periode yang sama, petugas mencatat 485 kejadian Karhutla dengan total luas lahan terbakar mencapai 712,0 hektare.

Data tersebut memperlihatkan bahwa Karhutla telah membawa dampak yang lebih luas. Selain menghadapi kebakaran dan kabut asap, masyarakat juga harus menghadapi risiko gangguan kesehatan yang muncul di tengah kondisi lingkungan yang terdampak asap kebakaran.

Kabid Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Damkar Kabupaten Barito Timur, Parluhutan Tampubolon, mengingatkan masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak asap Karhutla.

“Kami mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap dampak kabut asap, terutama terhadap kesehatan. Jika kondisi udara memburuk, masyarakat sebaiknya mengurangi aktivitas di luar rumah dan menggunakan masker ketika harus beraktivitas di luar,” ujarnya.

Dampak penyakit tersebut tercatat di seluruh kecamatan di Barito Timur. Dusun Timur mencatat jumlah warga terdampak paling tinggi dengan 458 jiwa. Selanjutnya Pematang Karau 185 jiwa, Paju Epat 137 jiwa, Karusen Janang 113 jiwa, Awang 117 jiwa, Patangkep Tutui 109 jiwa dan Paku 108 jiwa.

Kemudian Benua Lima mencatat 101 jiwa terdampak, Dusun Tengah 96 jiwa dan Raren Batuah 64 jiwa. Sebaran tersebut menunjukkan bahwa dampak kesehatan telah menjangkau seluruh wilayah kecamatan di Kabupaten Barito Timur.

Di sisi lain, Karhutla terus bertambah di sejumlah wilayah. Paju Epat mencatat kejadian terbanyak dengan 102 kasus, disusul Pematang Karau sebanyak 95 kejadian dan Karusen Janang 92 kejadian.

Selanjutnya Dusun Timur mencatat 73 kejadian, Paku 39 kejadian, Raren Batuah 30 kejadian, Dusun Tengah 18 kejadian, Awang 16 kejadian, Patangkep Tutui 13 kejadian dan Benua Lima tujuh kejadian.

Kondisi kualitas udara turut memperbesar perhatian terhadap dampak kesehatan masyarakat. Dashboard BPBD Damkar mencatat ISPU tujuh hari terakhir berada pada angka 211,9 dengan kategori Sangat Tidak Sehat.

Kondisi tersebut membuat masyarakat perlu membatasi paparan asap terutama kelompok rentan seperti anak-anak dan lansia serta warga yang harus beraktivitas di luar ruangan. Penggunaan masker dan pengurangan aktivitas di kawasan yang terpapar asap menjadi langkah yang disarankan untuk mengurangi paparan udara buruk.

Parluhutan mengatakan BPBD Damkar terus mendorong masyarakat untuk ikut mencegah munculnya kebakaran baru. Menurutnya, masyarakat memiliki peran penting karena pemadaman akan semakin sulit ketika api sudah meluas.

“Kami terus melakukan penanganan dan mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan pembakaran lahan. Pencegahan dari awal sangat penting karena ketika api sudah meluas, penanganannya menjadi lebih sulit dan dampaknya juga semakin besar,” katanya.

Karhutla juga menimbulkan persoalan lain bagi masyarakat, termasuk kebutuhan air bersih. Hingga pembaruan data tersebut, BPBD Damkar telah mendistribusikan 18.000 liter air bersih kepada 252 kepala keluarga yang membutuhkan.

Rangkaian data tersebut menggambarkan besarnya dampak Karhutla Barito Timur. Sebanyak 485 kejadian telah membakar 712,0 hektare lahan, sementara 1.488 jiwa terdampak penyakit di tengah kondisi kualitas udara yang masuk kategori Sangat Tidak Sehat.

Karena itu, penanganan Karhutla tidak cukup hanya dengan memadamkan api. Pemerintah, petugas dan masyarakat juga perlu menjaga kesehatan warga yang terdampak asap serta mencegah munculnya kebakaran baru agar dampaknya tidak semakin meluas. (AGUSTINUS BOLE MALO/j)