TAMIANG LAYANG –

BORNEONEWS, Tamiang Layang – Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Kabupaten Barito Timur terus menambah luasan lahan yang terdampak. Hingga Rabu, 16 September 2026 pukul 15.43 WIB, BPBD Damkar Barito Timur mencatat 485 kejadian Karhutla dengan total luas lahan terbakar mencapai 712,0 hektare.

Data tersebut menunjukkan bahwa api telah membakar ratusan hektare lahan di seluruh wilayah Barito Timur. Dalam dua hari terakhir, jumlah kejadian bertambah 20 kasus dan luas lahan terbakar meningkat 44,1 hektare. Pada Senin, 14 September 2026, BPBD Damkar masih mencatat 465 kejadian dengan luas lahan terbakar 667,9 hektare.

Kondisi tersebut membuat penanganan Karhutla tetap menjadi perhatian serius pemerintah daerah dan tim gabungan. Petugas tidak hanya harus memadamkan titik api yang muncul tetapi juga mencegah api kembali membakar lahan setelah proses pemadaman.

Kabid Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Damkar Kabupaten Barito Timur, Parluhutan Tampubolon, sebelumnya mengingatkan masyarakat agar tidak mengurangi kewaspadaan meski tim gabungan terus melakukan penanganan di sejumlah lokasi.

“Melihat perkembangan sampai hari ini, kita perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap Karhutla. Data menunjukkan luas lahan yang terbakar sudah mencapai 667,9 hektare dengan 465 kejadian. Karena itu, pencegahan dan kesiapsiagaan harus terus diperkuat, terutama di wilayah yang rawan terjadi kebakaran,” ujarnya.

Berdasarkan data terbaru, Paju Epat menjadi kecamatan dengan jumlah kejadian Karhutla terbanyak, yakni 102 kejadian. Pematang Karau menyusul dengan 95 kejadian dan Karusen Janang 92 kejadian. Selanjutnya Dusun Timur mencatat 73 kejadian, Paku 39 kejadian, Raren Batuah 30 kejadian, Dusun Tengah 18 kejadian, Awang 16 kejadian, Patangkep Tutui 13 kejadian dan Benua Lima tujuh kejadian.

Dari sisi luasan, Pematang Karau dan Karusen Janang masing-masing mencatat 153,1 hektare lahan terbakar. Paju Epat menyusul dengan 121,2 hektare, Raren Batuah 87,7 hektare, Patangkep Tutui 68,8 hektare dan Dusun Timur 64,7 hektare.

Sementara itu, BPBD Damkar mencatat luas lahan terbakar di Paku mencapai 17,4 hektare, Dusun Tengah 18,4 hektare, Awang 13,3 hektare dan Benua Lima 14,3 hektare. Data tersebut menggambarkan sebaran Karhutla yang terjadi di seluruh kecamatan di Barito Timur.

Jika dilihat berdasarkan periode bulanan, Agustus menjadi bulan dengan jumlah kejadian tertinggi, yakni 343 kejadian dengan luas lahan terbakar 408,3 hektare. Namun, Karhutla tetap bergerak cepat pada September. Hingga 16 September 2026, BPBD Damkar mencatat 92 kejadian dengan luas lahan terbakar mencapai 251,4 hektare.

Selain membakar lahan, Karhutla juga memunculkan dampak terhadap masyarakat. Dashboard BPBD Damkar mencatat 233 kejadian wabah penyakit dengan 1.488 jiwa terdampak dan tidak terdapat korban jiwa. Parluhutan sebelumnya membenarkan bahwa data tersebut berkaitan dengan kasus ISPA yang muncul di tengah kondisi kabut asap.

Kondisi kualitas udara juga masih membutuhkan perhatian. BPBD Damkar mencatat rata-rata Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) selama tujuh hari terakhir mencapai 211,9 atau berada dalam kategori Sangat Tidak Sehat. Angka tersebut mengikuti kondisi udara yang sebelumnya sempat memburuk di sejumlah wilayah Barito Timur.

Pada Sabtu, 12 September 2026, ISPU bahkan mencapai angka 566 di Kecamatan Dusun Timur. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa asap dari kebakaran memberikan tekanan terhadap kualitas udara dan berpotensi meningkatkan risiko gangguan kesehatan bagi masyarakat.

Dampak kemarau dan Karhutla juga terlihat dari kebutuhan air bersih. Hingga pembaruan dashboard pada Rabu, 16 September 2026, BPBD Damkar telah mendistribusikan 18.000 liter air bersih kepada 252 kepala keluarga. Bantuan tersebut menjadi bagian dari penanganan dampak bencana yang tidak hanya berkaitan dengan api tetapi juga kebutuhan dasar masyarakat.

Dengan 485 kejadian dan 712,0 hektare lahan terbakar, Barito Timur menghadapi situasi Karhutla yang masih dinamis. Penambahan 44,1 hektare hanya dalam dua hari memperlihatkan bahwa titik kebakaran masih terus muncul sehingga petugas perlu mempercepat penanganan sekaligus memperkuat pencegahan di wilayah rawan.

Masyarakat juga memiliki peran penting untuk menekan pertambahan luasan Karhutla dengan tidak membuka atau membersihkan lahan menggunakan api, segera melaporkan kemunculan titik api dan membantu petugas menjaga agar api tidak meluas. Upaya tersebut diperlukan untuk membatasi kerusakan lahan sekaligus mengurangi dampak lanjutan berupa kabut asap, penurunan kualitas udara, gangguan kesehatan dan kebutuhan air bersih. (AGUSTINUS BOLE MALO/j)