BORNEONEWS, Nanga Bulik - Dinas Kesehatan (Dinkes) Lamandau mengingatkan masyarakat periode rawan terjadinya kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) adalah di awal tahun, seiring terjadinya peralihan musim.
"Fenomena DBD di Lamandau ini memang rawan terjadi di awal tahun, kisaran periode Januari-Maret. Karena di bulan-bulan tersebut merupakan saat-saat peralihan musim atau pancaroba, dari musim hujan ke musim kemarau," terang Alfian, Kasie Kesehatan Lingkungan (Kesling) Dinkes Lamandau, Minggu (15/1/2017).
Saat peralihan musim merupakan waktu yang tepat untuk berbagai jenis nyamuk termasuk nyamuk Aides Aegepty berkembang biak. Karena dalam peralihan musim inilah jentik nyamuk sangat mudah bersarang. Cuaca cenderung lembab dan akan banyak potensi penampungan atau genangan air pasca musim hujan, yang dijadikan sarang nyamuk.
Alfian juga menuturkan, kondisi yang sama juga ditunjukkan oleh data di tahun 2016 lalu. Dimana, katanya, semua (sembilan) kasus DBD di Lamandau terjadi di awal tahun.
"Sembilan kasus DBD di tahun lalu juga menjadi bukti nyata jika periode awal tahun menjadi periode yang sangat rawan. Karena semua kasusnya terjadi pada periode Januari-Maret," sebutnya.
Atas hal tersebut Alfian berharap, semua masyarakat tanpa terkecuali, agar senantiasa waspada terjangkit DBD. Cara yang paling ampuh untuk mencegahnya, kata dia, adalah dengan menerapkan PHBS dan 3M Plus.
"Penerapan PHBS dan 3M Plus tetap menjadi cara yang paling ampuh untuk mencegah DBD. Karena fogging atau pengasapan hanyalah bentuk pencegahan yang sifatnya membunuh nyamuk dewasa, bukan membunuh jentiknya," tukas dia.
Seperti diketahui, dalam kurun waktu sepekan terakhir, telah terjadi empat kasus DBD di Kabupaten Lamandau, tepatnya di Desa Purwareja (SP 1), kecamatan Sematu Jaya. (HENDY NURFALAH/B-5)
"Fenomena DBD di Lamandau ini memang rawan terjadi di awal tahun, kisaran periode Januari-Maret. Karena di bulan-bulan tersebut merupakan saat-saat peralihan musim atau pancaroba, dari musim hujan ke musim kemarau," terang Alfian, Kasie Kesehatan Lingkungan (Kesling) Dinkes Lamandau, Minggu (15/1/2017).
Saat peralihan musim merupakan waktu yang tepat untuk berbagai jenis nyamuk termasuk nyamuk Aides Aegepty berkembang biak. Karena dalam peralihan musim inilah jentik nyamuk sangat mudah bersarang. Cuaca cenderung lembab dan akan banyak potensi penampungan atau genangan air pasca musim hujan, yang dijadikan sarang nyamuk.
Alfian juga menuturkan, kondisi yang sama juga ditunjukkan oleh data di tahun 2016 lalu. Dimana, katanya, semua (sembilan) kasus DBD di Lamandau terjadi di awal tahun.
"Sembilan kasus DBD di tahun lalu juga menjadi bukti nyata jika periode awal tahun menjadi periode yang sangat rawan. Karena semua kasusnya terjadi pada periode Januari-Maret," sebutnya.
Atas hal tersebut Alfian berharap, semua masyarakat tanpa terkecuali, agar senantiasa waspada terjangkit DBD. Cara yang paling ampuh untuk mencegahnya, kata dia, adalah dengan menerapkan PHBS dan 3M Plus.
"Penerapan PHBS dan 3M Plus tetap menjadi cara yang paling ampuh untuk mencegah DBD. Karena fogging atau pengasapan hanyalah bentuk pencegahan yang sifatnya membunuh nyamuk dewasa, bukan membunuh jentiknya," tukas dia.
Seperti diketahui, dalam kurun waktu sepekan terakhir, telah terjadi empat kasus DBD di Kabupaten Lamandau, tepatnya di Desa Purwareja (SP 1), kecamatan Sematu Jaya. (HENDY NURFALAH/B-5)








