KUALA KAPUAS –

BORNEONEWS, Kuala Kapuas - Lonjakan ekstrem Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) yang menyentuh angka 2.577 di Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah, berkorelasi langsung dengan maraknya kejadian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta bertambahnya titik panas (hotspot). Kepungan asap tebal hasil pembakaran vegetasi yang tak terkendali di berbagai wilayah kini menjadi penyebab utama memburuknya kualitas udara hingga berada di tingkatan tertinggi, yakni kategori 'Berbahaya'.

Peningkatan konsentrasi partikulat pencemar di udara, khususnya PM10 yang menembus angka 2.577 dan PM2,5 sebesar 982, terjadi seiring intensitas karhutla yang meningkat drastis di musim kemarau 2026. Asap pekat yang dihasilkan dari lokasi kebakaran terbawa angin dan mengendap di kawasan pemukiman, memicu lonjakan ISPU lebih dari 3,5 kali lipat hanya dalam kurun waktu dua hari di stasiun pemantau Selat Hulu, Kecamatan Selat.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kapuas, Pangeran S. Pandiangan, mengonfirmasi bahwa maraknya titik api dan kebakaran lahan dalam beberapa hari terakhir berlangsung sangat signifikan sehingga berdampak langsung pada penurunan kualitas udara. Ia menyebut sedikitnya karhutla serius mengepung enam wilayah kecamatan sekaligus, yakni Kecamatan Basarang, Kapuas Hilir, Kapuas Timur, Dadahup, Kapuas Barat, dan Kapuas Murung.

Banyaknya titik kebakaran yang terjadi secara bersamaan memaksa Satgas Karhutla bekerja ekstra keras di lapangan guna melokalisasi kobaran api agar emisi asap tidak semakin tebal.

"Kemarin ada banyak kejadian kebakaran (karhutla) di Basarang, Kapuas Hilir, Kapuas Timur, Dadahup, Kapuas Barat dan Kapuas Murung. Tim kita sampai ada yg balik ke Posko Induk pukul. 03.33 WIB," ujar Pangeran saat dikonfirmasi, Kamis, 17 September 2026.

Di samping sebaran kebakaran yang meluas, hambatan utama yang memicu lamanya proses pemadaman hingga lahan terus memunculkan asap pekat adalah krisis air akibat kekeringan ekstrem. Pangeran menegaskan bahwa sumber-sumber air di sekitar lokasi karhutla telah mengering total. 

"Banyak sekali (kejadian kebakaran dan hotspot) karena air semakin sulit didapatkan. Kering sekali," tuturnya menguraikan kendala kritis satgas di lapangan.

Keterangan BPBD tersebut sejalan dengan lonjakan data akumulasi hotspot dalam 12 jam terakhir pada sistem pemantauan SiPongi+ Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK). Berdasarkan data pemantauan tersebut, terdeteksi sebanyak 13 titik panas yang tersebar di wilayah Kabupaten Kapuas, yang terdiri atas 4 titik berstatus tingkat kepercayaan tinggi (high confidence) dan 9 titik berstatus tingkat kepercayaan menengah (medium confidence).

Secara rinci, empat hotspot berstatus high confidence tertangkap satelit NASA-MODIS pada 16 September 2026 pukul 20.31 WIB di Desa Sei Ahas (Kecamatan Mantangai) serta tiga titik terpusat di Desa Lungkuh Layang (Kecamatan Timpah). Sementara sembilan titik medium confidence tersebar di Desa Danau Rawah, Mantangai Tengah, dan Sei Ahas (Kecamatan Mantangai), Desa Lungkuh Layang (Kecamatan Timpah), serta Desa Terusan Baguntan Raya dan Terusan Raya Barat (Kecamatan Bataguh) melalui pemantauan satelit NASA-MODIS dan NASA-SNPP. (SABRIANOOR/H)