SAMPIT –

‎BORNEONEWS, Sampit – Rencana pemasangan jaringan pipa PDAM hingga wilayah Ujung Pandaran, Kecamatan Teluk Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur masih terkendala keterbatasan anggaran. Pemkab Kotim menargetkan pembangunan jaringan tersebut dapat dialokasikan pada 2027.
‎
‎Kepala Dinas Cipta Karya, Tata Ruang dan Pertanahan (CKTRP) Kotim, Rifarna Montazriani mengatakan keterbatasan anggaran menjadi kendala utama belum terpasangnya jaringan pipa PDAM hingga ke Ujung Pandaran.
‎
‎Menurutnya, kondisi fiskal daerah saat ini cukup terbatas menyusul berkurangnya transfer dari pemerintah pusat dibandingkan tahun sebelumnya.
‎
‎“Permasalahannya klasik sebenarnya, kita keterbatasan anggaran. Apalagi situasi fiskal kita sekarang ini, transfer dari pusat berkurang jauh dari tahun sebelumnya,” kata Rifarna, Sabtu, 19 September 2026.
‎
‎Meski demikian, ia memastikan Pemkab Kotim tetap berupaya merealisasikan pembangunan jaringan tersebut. Terlebih, Bupati Kotim telah menginstruksikan agar kebutuhan jaringan air bersih menuju wilayah selatan menjadi perhatian pemerintah daerah.
‎
‎“Sesuai instruksi Pak Bupati, mungkin kita upayakan alokasi itu bisa terealisasi di tahun 2027,” ujarnya.
‎
‎Terkait kebutuhan anggaran, Rifarna menyebut pihaknya belum dapat memastikan nilai investasi yang diperlukan untuk membangun jaringan hingga Ujung Pandaran.
‎
‎Pasalnya, hingga kini belum dilakukan studi kelayakan maupun penyusunan feasibility study (FS) untuk menentukan kebutuhan teknis dan pembiayaan secara rinci.
‎Sebagai gambaran, pembangunan jaringan distribusi pipa di Desa Jaya Karet Kecamatan Mentaya Hilir Selatan sepanjang sekitar 2 kilometer  membutuhkan anggaran sekitar Rp1,2 miliar.
‎
‎“Kalau untuk sisi biaya, mungkin kami secara rincinya belum bisa menjawab sekarang karena belum dilakukan studi kelayakan maupun FS,” jelasnya.
‎
‎Namun, ia menegaskan kebutuhan anggaran untuk jaringan menuju Ujung Pandaran diperkirakan jauh lebih besar. Sebab, jaringan yang akan dibangun bukan sekadar jaringan distribusi biasa, melainkan jaringan distribusi utama (JDU) dengan ukuran pipa yang lebih besar.
‎
‎“Kalau yang untuk ke wilayah sampai Ujung Pandaran itu kan distribusi utama (JDU), jadi pipanya lebih besar dan biayanya pasti lebih memakan biaya lebih besar,” katanya.
‎
‎Ia menambahkan, angka kebutuhan anggaran secara lebih detail baru dapat diketahui setelah tahapan perencanaan teknis, termasuk penyusunan Detail Engineering Design (DED), dilakukan. ‎“Nanti mungkin detailnya kita lebih tahu setelah DED-nya disusun,” pungkas Rifarna. (DEVI/R)