SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit - Kualitas air baku Perumdam Tirta Mentaya Kabupaten Kotawaringin Timur di wilayah Desa Pelangsian, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang mulai masuk kategori waspada akibat meningkatnya kadar salinitas selama musim kemarau.

"Wilayah Pelangsian, ketika air pasang naik, kadar salinitasnya bisa mencapai 400 ppm. Masih bisa dikonsumsi, tetapi secara terbatas karena statusnya sudah waspada," kata Direktur Perumdam Tirta Mentaya Kotim Ismanadi, Sabtu, 19 September 2026.

Kondisi tersebut diketahui melalui pemeriksaan kualitas air baku yang dilakukan Perumdam Tirta Mentaya secara berkala.

Hasil pengujian menunjukkan peningkatan salinitas seiring meluasnya intrusi air laut ke Sungai Mentaya akibat kemarau yang melanda Kotim.

Pelangsian menjadi salah satu wilayah yang mulai terdampak intrusi air laut. Meski kondisinya belum separah wilayah selatan, peningkatan kadar garam membuat pemanfaatan air baku harus dilakukan secara lebih terbatas.

Kondisi paling parah terjadi di wilayah selatan Kotim, meliputi Kecamatan Mentaya Hilir Utara, Mentaya Hilir Selatan, Teluk Sampit hingga Pulau Hanaut. Kadar salinitas di kawasan tersebut telah berada jauh di atas batas aman untuk konsumsi.

Ismanadi menyebut kadar salinitas yang masih aman untuk air konsumsi berada di bawah 300 ppm. Sementara hasil pengujian di wilayah selatan menunjukkan kadar garam telah melampaui angka tersebut.

"Salinitas air di selatan Kotim berada di atas 650 ppm, baik saat air pasang maupun surut, sehingga sangat tidak aman dikonsumsi. Kami sarankan hanya digunakan untuk kebutuhan mandi, cuci, kakus (MCK)," tegasnya.

Intrusi air laut di wilayah selatan Kotim telah berlangsung lebih dari sebulan. Kondisi tersebut berdampak terhadap ketersediaan air bersih bagi masyarakat.

Untuk membantu memenuhi kebutuhan warga, Pemerintah Kabupaten Kotim bersama Perumdam Tirta Mentaya dan sejumlah instansi terkait terus menyalurkan bantuan air bersih ke wilayah terdampak. (DEWI PATMALASARI/R)