BORNEONEWS, Sampit - Sepekan setelah KM Virgo Transport 8 tenggelam di Laut Jawa pada Minggu, 13 September 2026, dua penumpang asal Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Helianto (55) dan Novika Liana (43), hingga kini belum ditemukan.
Kondisi tersebut membuat keluarga korban mempertanyakan proses pencarian dan penanganan kapal yang tenggelam. Kerabat korban, Wahito Fajriannor atau yang akrab disapa Fajrin, mengaku kecewa karena menurut keluarga belum ada tindakan khusus yang dinilai dapat mempercepat proses penyelamatan korban.
"Mungkin kami dan beberapa keluarga korban lain sedikit kecewa terhadap manajemen kapal dan juga tim yang mengevakuasi, kenapa pada sampai saat ini masih belum ada tindakan khusus terutama baik penyelamatan atau penyelamatan kapal," kata Fajrin, Sabtu, 19 September 2026.
Ia mempertanyakan keputusan untuk melakukan upaya terhadap kapal setelah kondisinya benar-benar tenggelam. Menurutnya, upaya menarik kapal ke tepi atau lokasi yang lebih mudah dijangkau semestinya dapat dilakukan sejak awal ketika kapal masih dalam kondisi mengapung meskipun terbalik.
"Kenapa pada saat ini proses kapal yang sudah benar-benar tenggelam malah ingin dikeluarkan atau pengin ditarik ke daratan. Kenapa tidak di waktu hari pertama atau hari kedua posisi kapal yang belum tenggelam tidak ada upaya untuk membawa kapal ke pinggirling membawa kapal ke daratan pinggir," ujarnya.
Fajrin menyebut pada hari kejadian terdapat sejumlah kapal yang terlibat dalam proses evakuasi korban. Dengan banyaknya tim yang berada di lokasi, ia menilai semestinya ada upaya lanjutan terhadap kapal apabila korban yang berada di permukaan atau dasar laut tidak kembali ditemukan.
"Padahal hari yang kejadian itu di mana di sana banyak eh kapal evakuasi kurang lebih 7 sampai 8 kapal yang mengevakuasi korban yang memang ada di eh dasaran laut. Sebenarnya kalau di hari pertama dengan banyaknya tim evakuasi itu tidak menemukan korban lagi, itu korban sudah dipastikan eh ada di dalam kapal," tambahnya.
Menurut Fajrin, kondisi tersebut semestinya menjadi pertimbangan untuk melakukan tindakan khusus terhadap kapal sejak awal. Sehingga proses pencarian korban yang diduga masih berada di dalam kapal dapat dilakukan lebih mudah.
"Seharusnya ada tindakan khusus terutama upaya untuk menarik kapal itu ke pinggir agar mudah evakuasi korban yang terjebak di dalam kapal. Kenapa pada sampai saat ini ketika posisi kapal sudah benar-benar tenggelam baru ada upaya untuk evakuasi korban yang di dalam dan bahkan ada upaya untuk mengangkat kapal itu ke daratan," tuturnya.
Ia kembali menegaskan bahwa saat insiden terjadi, kapal belum sepenuhnya tenggelam dan masih mengapung dalam kondisi terbalik. Karena itu, keluarga mempertanyakan mengapa tidak ada upaya sejak awal untuk menarik kapal menuju permukaan atau mendekati daratan.
"Padahal saat insiden itu terjadi, kapal itu sebenarnya masih mengapung walaupun dengan kondisi terbalik. Harusnya bisa ditindaklanjuti dengan mencoba menarik kapal itu ke permukaan atau ke daratan," pungkasnya. (DEWI PATMALASARI/j)









