BORNEONEWS, Tamiang Layang – Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) kembali terjadi di Desa Murutuwu, Kecamatan Paju Epat, Kabupaten Barito Timur, Sabtu, 19 September 2026. Kobaran api diperkirakan melahap sekitar 7 hektare lahan yang didominasi semak belukar dan gambut tebal.
Brigade Karhutla KPHP Barito Hilir bersama personel Polres Barito Timur bergerak melakukan pemadaman setelah menerima laporan dari masyarakat. Operasi pemadaman berlangsung mulai pukul 12.39 WIB hingga 16.51 WIB dengan mengerahkan satu regu dari masing-masing unsur.
Kepala KPHP Barito Hilir Zainal Abidin mengatakan kondisi kebakaran cukup mengkhawatirkan karena arah pergerakan api mendekati kawasan permukiman masyarakat. Karena itu, tim di lapangan memprioritaskan penyekatan laju api agar tidak merambat lebih jauh.
“Api berhasil kami sekat karena pergerakannya mengarah ke permukiman masyarakat. Prioritas kami adalah mencegah api semakin meluas dan memastikan kobaran tidak sampai mengancam rumah warga,” kata Zainal Abidin.
Dalam operasi tersebut, tim menggunakan satu unit mobil Kubung, 22 selang antar, dua nozzle, satu unit Y, dua spiral serta dua mesin Waterax Mark 3, masing-masing satu unit Waterax Mark 3 dan Waterax Mark 3 Watson Edition. Tim juga didukung perangkat komunikasi dan koordinasi berupa enam unit HT serta lima unit telepon seluler Android.
Sumber air untuk mendukung proses pemadaman berasal dari tangki suplai berkapasitas 5.000 liter. Ketersediaan air menjadi salah satu faktor penting dalam operasi mengingat vegetasi yang terbakar berupa semak belukar dengan lapisan gambut yang cukup tebal sehingga berpotensi membuat api menjalar dan kembali menyala di bawah permukaan.
Dari perkiraan luas kebakaran sekitar 7 hektare, tim gabungan berhasil melakukan pemadaman dan pengendalian pada sekitar 4 hektare lahan. Sementara sebagian area lainnya belum dapat ditangani secara menyeluruh karena kondisi medan dan keterbatasan pencahayaan ketika hari mulai malam.
“Bagian belakang lokasi belum bisa kami padamkan seluruhnya karena pencahayaan sudah minim dan posisi api cukup jauh. Kondisi tersebut menyulitkan tim untuk melakukan pemadaman secara maksimal,” ujar Zainal.
Meski demikian, upaya penyekatan menjadi langkah penting untuk menghambat pergerakan api, terutama pada sisi yang mengarah ke permukiman. Tim harus bekerja dengan mempertimbangkan kondisi lahan gambut yang memiliki potensi menyimpan bara di bawah permukaan dan kembali memunculkan api apabila tidak ditangani secara tuntas.
Karhutla di Murutuwu ini tercatat berada pada kawasan Areal Penggunaan Lain (APL). Tim gabungan terus mengutamakan pengendalian api pada titik-titik yang berpotensi memperluas kebakaran sekaligus mengantisipasi ancaman terhadap permukiman masyarakat di sekitar lokasi.
Zainal Abidin menegaskan bahwa kondisi di lapangan membutuhkan kewaspadaan karena api pada lahan dengan vegetasi semak dan gambut dapat bergerak cepat, terutama apabila didukung kondisi kering dan hembusan angin.
“Kami mengimbau masyarakat tetap waspada dan segera melaporkan apabila melihat titik api. Kecepatan informasi sangat menentukan agar penanganan bisa dilakukan sebelum kebakaran meluas dan mendekati permukiman,” pungkasnya. (AGUSTINUS BOLE MALO/j)









