TAMIANG LAYANG –

BORNEONEWS, Tamiang Layang – Kualitas udara di Kabupaten Barito Timur kian mengkhawatirkan di tengah masih berlangsungnya kebakaran hutan dan lahan (Karhutla). Hingga Sabtu, 19 September 2026, indeks pencemaran udara di sejumlah wilayah tercatat sangat tinggi, sementara dampak terhadap kesehatan masyarakat terus bertambah.

Berdasarkan dashboard Sistem Informasi Pengelolaan Data (SIPD) BPBD Damkar Kabupaten Barito Timur, hingga Sabtu, 19 September 2026, tercatat 595 kejadian Karhutla dengan total luas lahan terbakar mencapai 819,0 hektare.

Tekanan terhadap kualitas udara terlihat dari catatan Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU). Dalam pemantauan selama tujuh hari terakhir, rata-rata ISPU tercatat mencapai 712,0 dan berada pada kategori berbahaya.

Angka tertinggi tercatat di Kecamatan Paju Epat, dengan ISPU mencapai 1.396 pada Jumat, 18 September 2026. Kondisi tersebut menunjukkan fluktuasi kualitas udara yang sangat tajam. Sebelumnya, ISPU di wilayah tersebut tercatat 1.159 pada 14 September, kemudian turun menjadi 404 pada 15 September dan 325 pada 16 September sebelum kembali melonjak menjadi 1.097 pada 17 September.

Kondisi serupa juga terpantau di sejumlah kecamatan lainnya. Dusun Timur mencatat ISPU 1.203 pada 17 September setelah sehari sebelumnya berada di angka 717. Sementara itu, Dusun Tengah mencapai 1.113 pada 17 September.

Di wilayah Raren Batuah, ISPU juga berada pada level tinggi dengan catatan 1.239 pada 14 September, 1.150 pada 15 September dan 1.165 pada 16 September.

Kabid Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Damkar Kabupaten Barito Timur, Parluhutan Tampubolon, mengatakan perkembangan Karhutla dan kondisi kualitas udara menjadi perhatian serius dalam penanganan bencana.

“Melihat perkembangan Karhutla dan kondisi kualitas udara saat ini, kami terus meningkatkan kesiapsiagaan. Masyarakat juga kami imbau untuk tidak melakukan pembakaran lahan serta tetap memperhatikan kondisi kesehatan ketika kualitas udara berada pada kategori berbahaya,” ucapnya.

Dampak buruk kualitas udara tersebut juga mulai tercermin pada kondisi kesehatan masyarakat. Dashboard BPBD Damkar mencatat hingga Sabtu, 19 September 2026 terdapat 272 kejadian wabah penyakit dengan 1.713 jiwa terdampak ISPA.

Dusun Timur menjadi wilayah dengan jumlah warga terdampak ISPA paling tinggi, yakni 512 jiwa dari 55 kejadian wabah penyakit. Angka tersebut menjadi salah satu indikator besarnya tekanan kesehatan yang dihadapi masyarakat di tengah kondisi udara yang memburuk.

Selanjutnya, Pematang Karau mencatat 215 jiwa terdampak ISPA dari 25 kejadian wabah. Kemudian Paju Epat 161 jiwa dari 23 kejadian, Karusen Janang 133 jiwa dari 25 kejadian, Awang 132 jiwa dari 25 kejadian dan Benua Lima 130 jiwa dari 24 kejadian.

Sementara itu, Paku mencatat 121 jiwa terdampak ISPA, Patangkep Tutui 120 jiwa, Dusun Tengah 112 jiwa dan Raren Batuah 77 jiwa.

Dari sisi sebaran Karhutla, Karusen Janang menjadi wilayah dengan jumlah kejadian terbanyak, yakni 123 kejadian dengan luas lahan terbakar mencapai 161,6 hektare. Paju Epat berada berikutnya dengan 114 kejadian dan luas 126,2 hektare.

Pematang Karau mencatat 107 kejadian dengan luas lahan terbakar 153,1 hektare. Kemudian Dusun Timur 89 kejadian dengan 64,7 hektare, Paku 58 kejadian dengan 55,9 hektare dan Raren Batuah 35 kejadian dengan luas 87,7 hektare.

Selanjutnya Dusun Tengah mencatat 27 kejadian dengan luas 18,4 hektare, Patangkep Tutui 17 kejadian dengan 119,8 hektare, Awang 16 kejadian dengan 13,3 hektare serta Benua Lima sembilan kejadian dengan luas 18,3 hektare.

Selain menghadapi kebakaran dan dampak kesehatan, pemerintah juga melakukan penanganan terhadap kebutuhan dasar masyarakat. Dashboard BPBD Damkar mencatat distribusi air bersih hingga periode pelaporan telah menjangkau 258 kepala keluarga (KK) dengan total volume mencapai 24.000 liter.

Rangkaian data tersebut memperlihatkan bahwa persoalan Karhutla di Barito Timur tidak berhenti pada luas lahan yang terbakar. Asap dan pencemaran udara turut membawa konsekuensi terhadap kesehatan masyarakat, ditandai dengan 1.713 warga yang tercatat terdampak ISPA.

Dengan ISPU yang mencapai 1.396 di Paju Epat dan rata-rata tujuh hari berada pada angka 712,0, masyarakat di wilayah terdampak perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap kondisi udara. Di sisi lain, upaya pencegahan munculnya titik api baru menjadi bagian penting untuk menekan eskalasi Karhutla.

Hingga Sabtu, 19 September 2026, sebanyak 595 kejadian Karhutla dengan luas 819,0 hektare menjadi gambaran besarnya tekanan yang masih dihadapi Barito Timur. Ketika kebakaran terus berlangsung dan kualitas udara berada pada level berbahaya, persoalan Karhutla pun semakin nyata sebagai ancaman terhadap lingkungan sekaligus kesehatan masyarakat. (AGUSTINUS BOLE MALO/j)