BORNEONEWS, Kuala Kurun – Salah satu tokoh perempuan asal Kabupaten Gunung Mas, Katriana, yang saat ini menjabat sebagai Komisioner Komisi Informasi Provinsi Kalimantan Tengah, menyuarakan isu kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di forum internasional.
Katriana diundang oleh International Women's Peace Group (IWPG) untuk menjadi salah satu perwakilan Indonesia dalam acara International Women's Peace Conference 2026 yang digelar di Cheongju, Korea Selatan, pada 17-19 September 2026.
“Ada 18 perempuan perwakilan Indonesia yang mengikuti International Women's Peace Conference di Korea Selatan dan saya salah satunya. Itu menjadi salah satu momen berharga bagi saya untuk mengungkapkan berbagai isu di Indonesia, termasuk isu di Kalimantan Tengah,” ujar Katriana, Sabtu, 19 Septembet 2026.
Salah satu isu yang disuarakan Katriana dalam forum tersebut adalah persoalan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan yang hingga kini masih menjadi perhatian.
Dalam kesempatan itu, Katriana memberikan gambaran mengenai dampak karhutla yang tidak hanya berkaitan dengan kerusakan lingkungan, tetapi juga dapat mengganggu kehidupan masyarakat.
Ia menceritakan bagaimana kabut asap akibat karhutla dapat menyelimuti wilayah terdampak hingga masyarakat harus menggunakan masker ketika beraktivitas di luar rumah.
Kondisi tersebut juga dapat mengganggu aktivitas sehari-hari dan berdampak terhadap kesehatan masyarakat.
“Karhutla bukan hanya persoalan lingkungan. Dampaknya juga dirasakan langsung oleh masyarakat, mulai dari kualitas udara yang menurun, terganggunya aktivitas hingga ancaman terhadap kesehatan,” katanya.
Menurutnya, isu karhutla penting untuk terus disampaikan dalam berbagai forum, termasuk forum internasional, agar persoalan lingkungan yang terjadi di daerah dapat diketahui oleh masyarakat dunia.
Katriana juga menilai perempuan memiliki peran penting dalam menyuarakan berbagai persoalan lingkungan dan perdamaian.
Perempuan, kata dia, tidak hanya menjadi pihak yang terdampak ketika terjadi bencana lingkungan, tetapi juga dapat mengambil peran dalam membangun kesadaran dan mendorong upaya pencegahan.
Melalui keikutsertaannya dalam konferensi tersebut, Katriana berharap isu lingkungan dari Kalimantan Tengah, khususnya persoalan karhutla, dapat menjadi perhatian lebih luas.
Ia juga berharap adanya kolaborasi lintas negara dan lintas sektor dalam mengatasi permasalahan lingkungan serta mencegah terjadinya bencana ekologis.
“Harapannya, apa yang kita sampaikan dari daerah bisa didengar lebih luas dan semakin banyak pihak yang mau bersinergi untuk membantu menyelesaikan permasalahan karhutla di Kalimantan dan daerah lain di Indonesia," pungkasnya. (RISKA YULYANA/j)









