BORNEONEWS, Kuala Kapuas - Ketika air di parit dan kawasan rawa permukiman mulai surut di musim kemarau hingga menyisakan lumpur, sejumlah anak di Kuala Kapuas memanfaatkan kondisi tersebut untuk berburu ikan. Tanpa pancing maupun jaring, mereka turun langsung ke lumpur dan mencari ikan gabus serta papuyu dengan tangan kosong.
Dengan tubuh berlumuran lumpur, anak-anak itu menyusuri parit, cekungan tanah hingga kolong rumah panggung warga. Tangan mereka digunakan untuk meraba bagian lumpur yang masih basah, mencari pergerakan ikan yang bersembunyi di dalamnya. Beberapa ekor ikan gabus dan papuyu pun berhasil dikumpulkan.
“Biasanya kalau air sudah surut dan tinggal lumpur, kami cari ikan di sini. Ikannya ada yang masuk ke lumpur, jadi diraba pakai tangan. Kalau dapat banyak, dibawa pulang untuk dimasak,” kata salah seorang anak yang ikut berburu ikan di Gang Damai, Kuala Kapuas, Minggu, 20 September 2026.
Aktivitas tersebut bagi anak-anak bukan sekadar permainan. Kondisi lingkungan sekitar menjadi ruang bagi mereka untuk mengenal sekaligus memanfaatkan sumber daya perairan yang tersedia. Hasil tangkapan juga dapat menjadi tambahan lauk bagi keluarga.
Secara ilmiah, ikan gabus (Channa striata) memiliki kemampuan bertahan pada kondisi perairan dengan kadar oksigen rendah karena mempunyai organ pernapasan tambahan yang memungkinkan pengambilan oksigen dari udara. Kemampuan adaptasi ini membuat gabus mampu bertahan ketika air semakin dangkal dan habitatnya menyisakan lumpur yang masih lembap.
Ikan papuyu (Anabas testudineus) juga memiliki organ pernapasan tambahan sehingga dapat bertahan dalam kondisi perairan yang minim oksigen. Adaptasi tersebut menjadi salah satu alasan kedua jenis ikan ini masih dapat ditemukan ketika air telah surut dan kawasan perairan berubah menjadi hamparan lumpur. Di tengah kondisi itu, tangan kosong dan kejelian menjadi alat utama anak-anak Kuala Kapuas untuk menemukan ikan yang masih bersembunyi. (SABRIANOOR/H)









