PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya — Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) kembali mengganggu aktivitas penerbangan di Bandara Tjilik Riwut, Palangka Raya.

Jarak pandang yang turun drastis membuat sejumlah penerbangan harus mengalami penyesuaian operasional, termasuk pembatalan demi menjaga keselamatan penerbangan.

Executive General Manager (EGM) Bandara Tjilik Riwut, I Made Darmawan, menjelaskan bahwa gangguan ini sepenuhnya dipengaruhi kondisi cuaca, khususnya kabut asap yang menurunkan jarak pandang di sekitar kawasan bandara.

Ia menegaskan, kondisi tersebut tidak berkaitan dengan gangguan fasilitas bandara maupun peralatan navigasi.

“Gangguan operasional bandara ini terjadi akibat cuaca kabut asap yang memengaruhi jarak pandang kapten penerbang. Untuk kegiatan pendaratan dan lepas landas, dibutuhkan jarak pandang tertentu,” ujar Made, Senin, 21 September 2026.

Jarak pandang saat ini tercatat hanya sekitar 800 meter, jauh di bawah standar keselamatan yang dipersyaratkan, yaitu minimal 1.500 hingga 2.000 meter.

“Kalau hanya 800 meter, masih jauh dari persyaratan aman,” jelasnya.

Dampak kabut asap cukup signifikan. Pada Kamis 17 September tercatat 16 pergerakan penerbangan terdampak, dan meningkat menjadi 18 pergerakan pada Jumat 18 September 2026 Secara kumulatif, sedikitnya 34 penerbangan terpengaruh dalam dua hari.

Garuda Indonesia dan Super Air Jet telah membatalkan sejumlah penerbangannya, sementara Lion Air dan Citilink masih memantau perkembangan kondisi.

Made berharap kabut asap segera berkurang sehingga aktivitas penerbangan kembali normal. Calon penumpang diminta memantau informasi resmi maskapai.

"Kami juga menyediakan ruangan oksigen, layanan ambulans, dan masker gratis bagi yang membutuhkan," pungkasnya. (PATHUR/j)