SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit - Dua ekor trenggiling ditemukan dalam kondisi hangus terbakar di lokasi kebakaran lahan Desa Terantang Hilir, Kecamatan Seranau, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim). Keduanya ditemukan di lokasi berbeda yang masih berdekatan dengan kawasan terdampak kebakaran.

Aktivis lingkungan Harie mengatakan, temuan tersebut diketahui setelah dilakukan penyisiran di sekitar lokasi kebakaran. Kondisi kedua trenggiling yang ditemukan sangat mengenaskan karena seluruh bagian tubuhnya terbakar.

"Kemarin temuannya dua ekor trenggiling. Di lokasi yang berbeda. Jadi, satu lokasi itu sudah terbakar di situ, satunya enggak jauh dari situ. Kondisinya mengenaskan. Kondisinya kalau kita lihat semua full terbakar, 100 persen terbakar," kata Harie, Senin, 21 September 2026.

Ia menjelaskan, kondisi tubuh trenggiling yang ditemukan hangus diduga berkaitan dengan perilaku satwa tersebut ketika menghadapi ancaman. Trenggiling biasanya menggulung atau menelungkupkan tubuh untuk melindungi bagian tubuhnya yang rentan.

"Biasanya trenggiling kenapa terbakar bagian badan, karena dia melindungi badannya ketika dia telungkup. Jadi makanya yang habis itu bagian badannya, sisa buntut (ekor). Buntutnya disembunyiin di perut, baru dia badannya yang terbakar," ujarnya.

Menurut Harie, kebakaran yang kemudian meluas ke wilayah Terantang Hilir tersebut berasal dari arah Desa Batuah. Api disebut menyebar akibat kondisi angin yang cukup kencang sehingga menjangkau kawasan perkebunan masyarakat di Terantang Hilir.

"Kalau kita lihat itu kebakaran lahan dari awal itu dari Desa Batuah. Karena angin kencang meluas ke Terantang Hilir," katanya.

Desa Terantang Hilir sendiri dihuni sekitar 3.000 warga yang sebagian memiliki dan mengelola kebun di sekitar wilayah tersebut. Informasi mengenai temuan dua trenggiling itu diperoleh dari masyarakat yang berada di lokasi.

Harie mengatakan, penyisiran dilakukan sebagai bagian dari upaya penyelamatan satwa terdampak kebakaran. Tim aktivis lingkungan biasanya melakukan patroli dan tracking setelah api benar-benar padam karena kondisi saat kebakaran masih berlangsung terlalu berbahaya dan menyulitkan untuk masuk ke kawasan terbakar.

"Jadi, kita biasanya patroli atau melakukan tracking untuk misi penyelamatan satwa. Kita juga menunggu memang benar-benar padam atau pendinginan baru kita bisa sweeping," tuturnya.

Penyisiran dilakukan secara rutin untuk mencari satwa yang masih bertahan maupun yang terdampak kebakaran. Bahkan, aktivitas tersebut terkadang dilakukan hingga malam dengan menyesuaikan kondisi di lapangan.

"Jadi kemarin karena kita sudah menemukan bukti yang memang benar-benar valid bahwa di situ memang ada satwa trenggiling. Juga banyak satwa yang dilindungi terdampak karhutla. Ada kucing hutan juga," jelas Harie.

Dalam proses penyisiran sebelumnya, tim juga sempat menemukan seekor kucing hutan di kawasan terdampak kebakaran. Namun, satwa tersebut ditemukan dalam kondisi sudah terbakar. 

Adapun selanjutnya, aktivis menyerahkan bangkai trenggiling tersebut kepada BKSDA Pos Sampit untuk selanjutnya dikuburkan di wilayah Kecamatan Baamang. (DEWI PATMALASARI/j)