BORNEONEWS, Sampit - Dua bangkai trenggiling yang ditemukan hangus terbakar di lokasi bekas kebakaran hutan dan lahan (karhutla) Desa Terantang Hilir, Kecamatan Seranau, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), diserahkan kepada BKSDA Pos Sampit.
Komandan BKSDA Pos Sampit Muriansyah mengatakan, pihaknya menerima penyerahan dua bangkai trenggiling tersebut pada Minggu, 20 September 2026 sekitar pukul 17.20 WIB. Kondisi kedua satwa dilindungi itu sudah tidak utuh akibat terbakar.
"Pada hari Minggu tanggal 20 September 2026 sekitar pukul 17.20 WIB, Pos Sampit menerima penyerahan 2 ekor bangkai trenggiling. Sebagian besar tubuh trenggiling sudah tidak utuh lagi," kata Muriansyah, Senin, 21 September 2026.
Kedua bangkai tersebut diserahkan oleh komunitas atau aktivis lingkungan di Sampit yang menemukannya ketika melakukan penyisiran di kawasan terdampak karhutla. Lokasi penemuan berada di wilayah Desa Terantang Hilir, Kecamatan Seranau.
Setelah proses serah terima selesai, BKSDA memutuskan langsung menguburkan kedua bangkai tersebut. Keputusan itu diambil karena kondisi bangkai sudah menimbulkan bau.
"Setelah giat serah terima, karena kondisi bangkai masih berbau, bangkai trenggiling tersebut diputuskan langsung dikuburkan di wilayah Kecamatan Baamang," ujarnya.
Sebelumnya, aktivis lingkungan Harie menyampaikan bahwa dua trenggiling tersebut ditemukan dalam kondisi hangus terbakar di dua lokasi berbeda yang jaraknya tidak terlalu jauh. Keduanya ditemukan saat tim melakukan penyisiran setelah kawasan terdampak karhutla mulai aman untuk dimasuki.
"Kemarin temuannya dua ekor trenggiling. Di lokasi yang berbeda. Jadi, satu lokasi itu sudah terbakar di situ, satunya enggak jauh dari situ. Kondisinya mengenaskan. Kondisinya kalau kita lihat semua full terbakar, 100 persen terbakar," kata Harie.
Harie menjelaskan, kondisi tubuh trenggiling yang ditemukan hangus berkaitan dengan perilaku satwa tersebut saat menghadapi ancaman. Trenggiling biasanya melindungi diri dengan menelungkupkan tubuh sehingga bagian badan menjadi bagian yang paling terpapar ketika api melanda.
"Biasanya trenggiling kenapa terbakar bagian badan, karena dia melindungi badannya ketika dia telungkup. Jadi makanya yang habis itu bagian badannya, sisa buntut (ekor). Buntutnya disembunyiin di perut, baru dia badannya yang terbakar," ujarnya.
Temuan dua bangkai tersebut menambah catatan dampak karhutla terhadap satwa liar di Terantang Hilir. Sebelumnya, aktivitas penyisiran di kawasan yang sama juga menemukan satu ekor trenggiling berukuran besar dalam kondisi mati terbakar. (DEWI PATMALASARI/j)









