BORNEONEWS, Palangka Raya — Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Palangka Raya merilis data terbaru seputar kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) sejak penetapan status Siaga Darurat pada 1 Juni 2026 hingga 20 September 2026.
Tercatat sebanyak 608 kejadian kebakaran dengan total luas lahan yang terbakar mencapai 1.265,59 hektare yang tersebar di sejumlah kecamatan.
Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kota Palangka Raya, Heri Fauzi, menyampaikan bahwa data tersebut mencerminkan besarnya tekanan yang dihadapi kota ini selama lebih dari tiga bulan terakhir.
Penanganan terus dilakukan secara maksimal oleh seluruh unsur terkait untuk menekan angka kejadian maupun luasan yang terbakar.
“Secara rinci, persebaran kejadian Karhutla tercatat terbanyak di Kecamatan Jekan Raya dengan 388 kejadian, disusul Kecamatan Sebangau sebanyak 126 kejadian, Kecamatan Pahandut 51 kejadian, Kecamatan Bukit Batu 39 kejadian, dan Kecamatan Rakumpit tercatat 4 kejadian,” ungkap Heri Fauzi, Senin, 21 September 2026.
Heri menambahkan, angka ini menunjukkan bahwa wilayah dengan vegetasi lahan gambut dan semak belukar memiliki risiko paling tinggi.
Kerja sama antarinstansi dan dukungan masyarakat menjadi kunci utama agar penanganan dapat berjalan cepat dan tepat sasaran di lapangan.
“Kami mengimbau seluruh lapisan masyarakat untuk turut serta mencegah terjadinya kebakaran. Jangan membakar sampah atau lahan secara sembarangan, karena dampaknya dirasakan bersama dan sulit dipadamkan saat musim kemarau,” tegasnya.
BPBD Kota Palangka Raya juga membuka layanan informasi darurat melalui Call Center 112 yang dapat dihubungi kapan saja apabila warga menemukan titik api atau potensi kebakaran.
"Kami berharap kesadaran kolektif masyarakat semakin meningkat sehingga angka kejadian Karhutla dapat menurun secara signifikan," pungkasnya. (PATHUR/j)









