BORNEONEWS, Barito Timur – Kabupaten Barito Timur masih harus menghadapi kemarau lebih panjang dari kondisi normal. Pengaruh El Nino membuat durasi musim kemarau tahun 2026 diperkirakan bertambah sekitar 30 hari sehingga masyarakat masih perlu menunggu hingga November untuk mendapatkan curah hujan yang lebih konsisten.
Kepala Stasiun Meteorologi Sanggu, Eko Bambang Minarto, mengatakan kondisi kemarau yang lebih panjang tersebut berkaitan dengan pengaruh El Nino yang turut memundurkan datangnya musim hujan di wilayah Barito Timur.
“El Nino mempengaruhi durasi musim kemarau di tahun 2026, dimana durasi musim kemarau khususnya di wilayah Barito Timur akan lebih panjang 3 dasarian atau 30-an hari. Hal ini berarti musim hujan datang lebih mundur dari pada normalnya,” jelas Eko.
Berdasarkan peta prediksi curah hujan, kondisi Barito Timur pada Oktober 2026 masih berada dalam kategori rendah. Artinya, peluang turunnya hujan dengan intensitas dan frekuensi yang lebih konsisten masih relatif terbatas pada bulan tersebut.
Perubahan kondisi diprakirakan mulai terlihat pada November. BMKG memprediksi curah hujan di Barito Timur mulai berada pada kategori menengah hingga tinggi pada periode November 2026 sampai Januari 2027.
Sifat hujan pada periode tersebut juga diprakirakan berada pada kategori normal hingga atas normal.
Prakiraan tersebut menjadi tanda bahwa periode kering yang berlangsung lebih panjang mulai memiliki peluang berakhir setelah memasuki November. Namun, masyarakat tetap perlu memahami bahwa datangnya hujan tidak ditentukan hanya oleh satu kali hujan deras.
BMKG menggunakan parameter curah hujan dalam periode dasarian atau 10 hari untuk menentukan awal musim hujan.
Salah satu kriterianya, apabila terdapat satu dasarian dengan curah hujan minimal 50 milimeter dan diikuti dua dasarian berikutnya yang juga mencapai minimal 50 milimeter, maka dasarian pertama dapat ditetapkan sebagai awal musim hujan.
BMKG juga menerapkan kriteria alternatif. Apabila dasarian pertama mencapai 50 milimeter tetapi salah satu dari dua dasarian berikutnya berada di bawah 50 milimeter, awal musim hujan masih dapat ditetapkan dengan mempertimbangkan akumulasi curah hujan selama tiga dasarian yang mencapai sedikitnya 150 milimeter.
Dengan demikian, masyarakat Barito Timur masih perlu bersabar menghadapi kondisi kering hingga Oktober. Hujan yang turun sesekali belum otomatis menandai berakhirnya musim kemarau apabila belum memenuhi kriteria yang digunakan dalam penentuan awal musim hujan.
Kondisi kemarau panjang tersebut berlangsung ketika tekanan terhadap lingkungan di Barito Timur masih tinggi. Rekapitulasi sebaran hotspot periode 1 Agustus hingga 20 September 2026 mencatat sebanyak 1.020 titik panas di seluruh wilayah kabupaten.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 954 titik berada pada tingkat kepercayaan atau confidence medium, 44 titik confidence high dan 22 titik confidence low.
Kecamatan Paju Epat menjadi wilayah dengan jumlah hotspot terbanyak dengan 327 titik. Berikutnya Pematang Karau sebanyak 279 titik, Karusen Janang 150 titik, Dusun Tengah 65 titik, Patangkep Tutui 54 titik, Paku 48 titik, Dusun Timur 36 titik, Raren Batuah 26 titik, Awang 19 titik, wilayah yang tidak terdefinisi 13 titik dan Benua Lima 3 titik.
Tingginya sebaran hotspot tersebut menunjukkan bahwa kondisi kering masih menjadi salah satu persoalan yang perlu diwaspadai sebelum perubahan musim benar-benar terjadi.
Kemarau panjang juga meningkatkan kerentanan terhadap kebakaran hutan dan lahan. Vegetasi yang mengering dan rendahnya ketersediaan air membuat proses pemadaman kebakaran menjadi lebih sulit ketika api kembali muncul di sejumlah wilayah.
Karena itu, meskipun November diprakirakan membawa curah hujan menengah hingga tinggi, masyarakat tetap diminta tidak mengabaikan potensi bencana selama masa peralihan musim.
Eko mengingatkan masyarakat untuk tetap mewaspadai perubahan cuaca ketika Barito Timur memasuki periode pancaroba.
“BMKG mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap potensi cuaca ekstrem selama masa pancaroba, seperti hujan lebat, angin kencang hingga petir. Kondisi ini bisa terjadi secara tiba-tiba dan berdampak signifikan. Selalu pantau informasi dari BMKG terutama informasi terkait peringatan dini cuaca maupun iklim,” kata Eko.
Peningkatan curah hujan pada November hingga Januari diprakirakan dapat membantu mengurangi tekanan akibat kekeringan yang selama ini dirasakan masyarakat. Namun, perubahan dari musim kemarau menuju musim hujan juga membawa tantangan baru berupa potensi cuaca ekstrem.
Dengan prakiraan tersebut, Oktober menjadi salah satu periode yang masih perlu diwaspadai karena kondisi kering diperkirakan belum sepenuhnya berakhir. Sementara November menjadi periode yang dinantikan karena peluang peningkatan curah hujan mulai terbuka lebih besar.
Bagi masyarakat Barito Timur yang menghadapi dampak kemarau panjang, kepastian datangnya hujan menjadi sangat penting. Selain membantu memenuhi kebutuhan air, curah hujan yang lebih konsisten diharapkan dapat mengurangi kondisi lahan kering serta menekan risiko kebakaran hutan dan lahan.
Meski demikian, masyarakat tetap perlu mengikuti perkembangan prakiraan dan peringatan dini BMKG karena awal musim hujan ditentukan berdasarkan pola curah hujan dalam beberapa dasarian, bukan hanya berdasarkan satu atau dua kali hujan yang turun. (AGUSTINUS BOLE MALO/H)









