BORNEONEWS, Palangka Raya - Atak (40) seorang pencari dan penjual kelelawar di Palangka Raya mengatakan bahwa kelelawar yang ia dapat dan jual saat ini tidak berasal dari Kota Cantik itu sendiri. Ternyata penjual kelelawar yang berjualan di sekitar Kantor Gubernur Kalimantan Tengah, Jalan Thamrin juga mengaku hal yang sama. Kelelawar yang dijual kebanyakan berasal dari Katingan dan Pulang Pisau.
"Nggak ada hutannya di sini, ini datangnya dari Katingan dan Pulang Pisau. Lebih banyak sih Pulang Pisau," ungkap Atak kepada borneonews.co.id, Minggu (15/1/2017).
Dikatakannya di tengah banyaknya permintaan, jumlah kelelawar malah menurun. Padahal, keuntungan dari menjual kelelawar ini lumayan karena ternyata banyak saja yang datang membeli kepadanya.
Dikatakan Atak jika cuaca bagus, apalagi saat musim buah seperti sekarang ini dia bisa mendapatkan 60-100 per hari dan ketika dijual, langsung habis juga.
"Kalau banyak kan agak murah juga kita jualnya, jadi banyak habis saja biar sebanyak apapun dijual," tambahnya.
Hanya saja, saat ini sedang masa-masa sulit menurut Atak. Bagaimana tidak, jumlah populasi yang kian sedikit, ditambah hutan-hutan mulai menghilang, ia hanya bisa mendapatkan 8-12 ekor per harinya sehingga ia terpaksa menjual agak mahal.
"Kalau yang ini karena besar dan susah mendapatkannya harganya Rp80.000. Kalau biasanya lagi panen itu murah saja, bisa Rp50.000 atau kalau kecil-kecil yang jenis Bangamat Kambang bisa Rp25.000 saja," tandasnya. (TESTI PRISCILLA/B-11)








