JAKARTA –

SETELAH sukses menyetop impor beras mulai 2025, pemerintah berencana mengurangi impor sejumlah komoditas pangan strategis lainnya.

Menteri Pertanian Amran Sulaiman menyebut ada empat komoditas yang kini diprioritaskan untuk dikurangi jumlah impornya, yakni gandum, jagung, kedelai, dan bawang putih.

Dari keempat komoditas pangan tersebut, upaya menggenjot produksi bawang putih menuju swasembada dinilai memiliki peluang untuk diwujudkan.

Itu sebabnya, menjadi sangat masuk akal bila pemerintah memberi perhatian serius terhadap upaya mengurangi ketergantungan pada impor bawang putih. Pemerintah ingin secepatnya mewujudkan swasembada komoditas tersebut.

Seperti diketahui, bawang putih merupakan salah satu komoditas pangan penting di Indonesia. Ada beberapa hal yang perlu dicermati untuk membaca kondisi bawang putih nasional.

Pertama, terkait impor. Indonesia masih bergantung pada impor bawang putih untuk memenuhi kebutuhan nasional. Pada 2022, Indonesia mengimpor sekitar 536.000 ton bawang putih.

Kedua, produksi dalam negeri. Produksi bawang putih nasional masih relatif rendah dibandingkan dengan kebutuhan. Pada 2022, produksi bawang putih dalam negeri mencapai sekitar 18.000 ton.

Ketiga, harga. Harga bawang putih di Indonesia dapat berfluktuasi bergantung pada musim dan ketersediaan pasokan. Pada 2023, harga bawang putih impor berada pada kisaran Rp30.000 hingga Rp40.000 per kilogram.

Keempat, upaya pemerintah. Secara umum, pemerintah telah melakukan sejumlah langkah untuk meningkatkan produksi bawang putih dalam negeri, antara lain memberikan bantuan benih dan pupuk kepada petani serta meningkatkan luas areal tanam.

Dengan kondisi tersebut, pemenuhan kebutuhan bawang putih Indonesia masih bergantung pada impor meskipun berbagai upaya untuk meningkatkan produksi dalam negeri telah dilakukan.

Tantangan Utama

Lalu, apa dan bagaimana persoalan utama dalam pengembangan bawang putih nasional? Salah satu tantangan utama untuk mewujudkan swasembada bawang putih di Indonesia adalah keterbatasan lahan dan kondisi iklim.

Bawang putih memerlukan lahan yang subur dan iklim yang relatif kering agar dapat tumbuh dengan baik. Indonesia memiliki iklim tropis yang cenderung lembap sehingga pengembangan bawang putih dalam skala besar menghadapi tantangan tersendiri.

Persoalan berikutnya adalah rendahnya produktivitas. Data menggambarkan produktivitas bawang putih di Indonesia masih relatif rendah dibandingkan dengan sejumlah negara lain. Hal ini dipengaruhi beberapa faktor, seperti kualitas benih, teknik budidaya, serta serangan hama dan penyakit.

Tantangan lainnya adalah ketergantungan terhadap impor. Indonesia masih mengandalkan pasokan bawang putih dari luar negeri untuk memenuhi sebagian besar kebutuhan nasional. Kondisi tersebut membuat produksi bawang putih dalam negeri menghadapi persaingan dengan produk impor.

Selain itu, biaya produksi bawang putih di Indonesia relatif tinggi dibandingkan dengan sejumlah negara lain. Kondisi ini antara lain dipengaruhi biaya benih, pupuk, dan tenaga kerja.

Persoalan lain yang tidak kalah penting adalah kualitas benih. Kualitas benih bawang putih di Indonesia masih perlu ditingkatkan karena sangat menentukan produktivitas dan hasil panen. Dengan demikian, mewujudkan swasembada bawang putih membutuhkan solusi yang komprehensif untuk menjawab berbagai persoalan tersebut.

Upaya menuju swasembada bawang putih dapat ditempuh melalui beberapa cara. Salah satunya dengan meningkatkan luas areal tanam untuk memperbesar produksi dalam negeri. Penggunaan varietas bawang putih unggul dan tahan terhadap penyakit juga penting untuk meningkatkan produktivitas dan hasil panen.

Bantuan benih dan pupuk kepada petani perlu diperkuat untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas produksi. Pada saat yang sama, pengembangan teknologi pertanian yang tepat diperlukan guna meningkatkan efisiensi dan produktivitas usaha tani bawang putih.

Kapasitas petani juga perlu ditingkatkan melalui pelatihan dan penyuluhan agar kemampuan serta pengetahuan mereka dalam membudidayakan bawang putih semakin baik.

Tidak kalah penting adalah melahirkan kebijakan pemerintah yang mendukung pencapaian swasembada bawang putih, antara lain melalui pemberian insentif kepada petani dan pengaturan impor bawang putih.

Dengan demikian, upaya mencapai swasembada membutuhkan kombinasi berbagai langkah tersebut sekaligus kesabaran dalam menjalankannya.

Upaya Komprehensif

Indonesia sebenarnya dapat mencapai swasembada bawang putih, tetapi untuk mewujudkannya diperlukan upaya yang signifikan dan komprehensif.

Pertama, pengembangan varietas bawang putih yang unggul dan tahan terhadap penyakit dapat meningkatkan produktivitas dan hasil panen.

Kedua, pengembangan teknologi pertanian yang tepat dapat meningkatkan efisiensi sekaligus produktivitas bawang putih.

Ketiga, peningkatan kapasitas petani melalui pelatihan dan penyuluhan dapat memperkuat kemampuan serta pengetahuan mereka dalam membudidayakan bawang putih.

Keempat, pemerintah dapat membuat kebijakan yang mendukung swasembada bawang putih, seperti memberikan insentif kepada petani dan mengatur impor bawang putih.

Kelima, investasi pada infrastruktur pertanian, seperti irigasi dan gudang penyimpanan, dapat meningkatkan efisiensi produksi dan memperkuat rantai pasok bawang putih.

Namun, perlu diingat bahwa mencapai swasembada bawang putih membutuhkan waktu dan upaya yang tidak sedikit. Indonesia perlu meningkatkan produksi bawang putih secara bertahap dan berkelanjutan untuk sampai pada kondisi tersebut.

Sejumlah negara dapat menjadi gambaran mengenai besarnya potensi pengembangan komoditas ini. China, misalnya, merupakan salah satu produsen bawang putih terbesar di dunia dengan kemampuan produksi yang sangat besar.

Amerika Serikat juga memiliki produksi bawang putih domestik dan menjadi salah satu negara yang mengembangkan komoditas tersebut secara luas.

Indonesia dapat mencapai swasembada bawang putih apabila mampu menjalankan upaya yang signifikan dan komprehensif. Hal ini jelas bukan pekerjaan mudah untuk digarap.

Cita-cita tersebut sangat membutuhkan keseriusan, konsistensi kebijakan, serta kerja bersama seluruh pemangku kepentingan di negeri ini.

Penulis: Entang Sastraatmadja adalah Anggota Dewan Pakar DPN HKTI.