BORNEONEWS, Tamiang Layang – Tim gabungan masih menghadapi bara api yang tersisa setelah menangani kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di lahan masyarakat Desa Wuran, Kecamatan Karusen Janang, Kabupaten Barito Timur, Selasa, 22 September 2026.
Dari lahan yang terbakar diperkirakan mencapai lebih dari 1 hektare, sekitar 0,6 hektare berhasil dipadamkan oleh tim gabungan. Namun, upaya pendinginan belum sepenuhnya menuntaskan kebakaran karena sejumlah titik masih menyimpan bara.
Kabid Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD dan Damkar Barito Timur, Parluhutan Tampubolon, mengatakan kondisi medan menjadi salah satu kendala dalam memastikan seluruh titik api benar-benar padam.
“Berdasarkan laporan TRC-PB BPBD Barito Timur, luas lahan yang terbakar diperkirakan lebih dari 1 hektare. Sekitar 0,6 hektare berhasil dipadamkan,” ujar Parluhutan.
Ia menjelaskan, banyak pepohonan yang roboh akibat terbakar sehingga menyulitkan petugas melakukan penyisiran sekaligus menjangkau titik-titik api yang berada di bawah atau di balik vegetasi yang terbakar.
“Kendala di lapangan karena banyak pepohonan yang roboh akibat terbakar. Api masih belum padam sepenuhnya,” katanya.
Informasi mengenai kebakaran tersebut diterima tim BPBD Barito Timur dari Sekretaris Camat Karusen Janang melalui WhatsApp. Dari Posko Siaga Karhutla Tamiang Layang, tim kemudian bergerak menuju lokasi pada pukul 12.30 WIB dengan waktu tempuh sekitar 40 menit.
Setibanya di lokasi, personel langsung melakukan penyisiran dan pemadaman. Penanganan melibatkan sembilan personel TRC-PB BPBD Barito Timur, personel Yonif TP 924/Uria Mapas serta masyarakat setempat.
BPBD Barito Timur mengerahkan dua mesin jinjing, delapan selang antar, dua nozzle, satu unit mobil pickup, satu mobil operasional rescue, tandon air berkapasitas 1.000 liter serta lima knapsack sprayer.
Sementara itu, Yonif TP 924/Uria Mapas mengerahkan satu unit mobil pemadam kebakaran. Kebutuhan air di lokasi didukung satu tangki berkapasitas sekitar 1.200 liter.
Pemadaman berlangsung hingga sekitar pukul 16.50 WIB. Meski sebagian besar area yang dapat dijangkau telah ditangani, petugas belum dapat memastikan seluruh titik api telah padam sepenuhnya.
Kondisi tersebut membuat bara yang tersisa menjadi perhatian karena pepohonan yang telah roboh dan vegetasi kering menyulitkan proses pendinginan secara menyeluruh.
Sebelum meninggalkan lokasi, seluruh unsur yang terlibat terlebih dahulu melakukan pengecekan personel untuk memastikan tidak ada anggota yang tertinggal di area kebakaran.
“Kita tetap melakukan penanganan sesuai kondisi di lapangan. Sebelum keluar dari lokasi, masing-masing instansi mengecek anggotanya. Setelah lengkap, tim langsung kembali ke tempat masing-masing,” ujar Parluhutan.
Penanganan karhutla di Desa Wuran menunjukkan bahwa keberhasilan memadamkan sebagian luasan lahan belum serta-merta mengakhiri ancaman kebakaran. Bara yang masih tersisa membutuhkan perhatian agar tidak kembali berkembang menjadi kobaran baru. (AGUSTINUS BOLE MALO/j)









