BORNEONEWS, Pangkalan Bun – Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Kotawaringin Barat memberikan diskresi kepada seluruh satuan pendidikan untuk menyesuaikan model pembelajaran akibat memburuknya kualitas udara karena kabut asap kebakaran hutan dan lahan.
Sekolah diperbolehkan menerapkan pembelajaran adaptif hingga Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) sesuai tingkat keparahan kualitas udara di wilayah masing-masing.
Kepala Disdikbud Kobar Muhammad Alamsyah mengatakan, kebijakan tersebut diambil untuk mengurangi risiko gangguan kesehatan terhadap siswa.
“Penyesuaian moda belajar ini diharapkan dapat menekan dampak gangguan kesehatan, seperti infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) pada anak-anak sekolah,” kata Alamsyah di Pangkalan Bun, Rabu, 23 September 2026.
Kebijakan tersebut tertuang dalam Surat Imbauan Kepala Dinas Nomor 824/1880/Sekr/Dikbud.
Pada poin 8 surat tersebut, setiap satuan pendidikan diberikan kewenangan untuk menentukan moda pembelajaran adaptif maupun PJJ dengan mempertimbangkan kondisi kualitas udara di lingkungan sekolah.
Menurut Alamsyah, langkah itu dilakukan menyusul memburuknya kabut asap akibat karhutla di wilayah Kotawaringin Barat dalam beberapa hari terakhir.
“Paparan asap pekat akibat kebakaran hutan dan lahan membuat aktivitas luar ruangan tidak aman bagi anak-anak sekolah,” ujarnya.
Berdasarkan data dan informasi terbaru dari Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) di sejumlah wilayah Kobar berada pada kisaran kategori sangat tidak sehat hingga berbahaya.
Kondisi tersebut dinilai berpotensi menimbulkan gangguan kesehatan, khususnya pada sistem pernapasan.
“Tidak hanya itu, pihak sekolah juga diminta untuk mengawasi dan mengevaluasi kondisi kesehatan warga sekolah, serta mengutamakan keselamatan para siswa, guru, dan tenaga kependidikan,” kata Alamsyah.
Disdikbud Kobar meminta sekolah aktif memantau perkembangan kualitas udara dan menyesuaikan kegiatan belajar apabila kondisi semakin memburuk.
Orang tua juga diimbau membatasi aktivitas anak di luar rumah selama kabut asap masih pekat.
“Pastikan anak-anak tetap berada di dalam rumah dan terus menggunakan masker saat beraktivitas di luar ruangan. Keselamatan dan kesehatan anak menjadi prioritas utama kita bersama,” ujarnya.









