BORNEONEWS, Pangkalan Bun – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kotawaringin Barat memprioritaskan penggunaan helikopter water bombing untuk menangani kebakaran hutan dan lahan di kawasan Taman Nasional Tanjung Puting (TNTP).
Kepala Pelaksana BPBD Kobar Samuel mengatakan, kawasan TNTP menjadi salah satu prioritas pemadaman udara karena terdapat sejumlah titik kebakaran yang sulit dijangkau petugas melalui jalur darat.
“Untuk prioritas pemadaman udara, kami akan arahkan ke kawasan TNTP. Kawasan itu merupakan habitat berbagai satwa dilindungi, khususnya orangutan,” kata Samuel di Pangkalan Bun, Rabu, 23 September 2026.
Untuk memperkuat operasi udara, helikopter Super Puma AS332L dengan registrasi C-FPUM telah tiba di Bandara Iskandar Pangkalan Bun sejak Sabtu, 19 September 2026.
Keberadaan helikopter tersebut dinilai penting karena sejumlah lokasi kebakaran berada di kawasan yang sulit ditembus personel maupun kendaraan pemadam.
Samuel menjelaskan, pengoperasian water bombing akan menyesuaikan kondisi dan kebutuhan di lapangan.
“Untuk pengoperasian helikopter water bombing tersebut akan disesuaikan pada kondisi serta kebutuhan pemadaman di lapangan, serta untuk mobilisasi pemadaman ke sana nanti dengan memanfaatkan pendekatan sumber air dari sungai sekitar,” ujarnya.
Berdasarkan data monitoring, luas kebakaran hutan di kawasan TNTP sejak 27 Agustus hingga 13 September 2026 diperkirakan mencapai sekitar 4.524 hektare.
Kebakaran tersebar di sejumlah wilayah, antara lain Tanjung Rengas, Pesalat, Sungai Cabang, Teluk Pulai, Pembuang Hulu, Sungai Baung dan Sungai Perlu.
Untuk wilayah Kabupaten Kotawaringin Barat, luas kebakaran yang cukup besar tercatat di Desa Sungai Cabang sekitar 1.113,7 hektare dan Desa Teluk Pulai sekitar 1.062,2 hektare.
Sementara di wilayah Kabupaten Seruyan, kebakaran tercatat di Pembuang Hulu sekitar 600 hektare, Sungai Baung 666,5 hektare serta Sungai Perlu sekitar 929,2 hektare.
Samuel berharap dukungan helikopter water bombing dapat mempercepat penanganan karhutla sekaligus mencegah api meluas ke kawasan lain.
“Terutama dalam mencegah api meluas, khususnya pada titik-titik lokasi yang sulit ditembus personel maupun kendaraan pemadam akibat keterbatasan akses,” katanya.
BPBD Kobar akan terus menyesuaikan operasi pemadaman udara dengan perkembangan titik api serta kondisi lapangan, termasuk ketersediaan sumber air untuk mendukung water bombing.









