JAKARTA –

BORNEONEWS, Tangerang – Teknologi drug-coated balloon atau DCB menjadi salah satu pilihan dalam menangani penyempitan berulang di dalam stent atau ring jantung pada kondisi tertentu.

Konsultan intervensi jantung Eka Hospital MT Haryono, dr. Rizki, mengatakan DCB menggunakan balon khusus yang permukaannya dilapisi obat antirestenosis untuk membantu membuka kembali pembuluh darah yang menyempit.

“Meski tidak sepenuhnya menggantikan peran ring, teknologi DCB atau balon khusus yang bagian luarnya dilapisi obat antirestenosis menjadi pilihan untuk kondisi tertentu seperti menangani sumbatan pada pasien yang pernah dipasang ring tanpa perlu menumpuk ring baru,” kata Rizki dalam keterangannya di Tangerang, Rabu, 23 September 2026.

DCB juga dapat menjadi pertimbangan pada pasien dengan pembuluh darah berukuran kecil maupun pasien dengan risiko perdarahan tertentu karena prosedur tersebut tidak meninggalkan implan permanen.

Dalam prosedurnya, balon dimasukkan ke lokasi pembuluh darah yang mengalami penyempitan kemudian dikembangkan selama beberapa detik.

Obat pada permukaan balon selanjutnya ditransfer ke dinding pembuluh darah. Setelah obat terserap, balon dikempiskan dan dikeluarkan kembali dari tubuh.

Dengan metode tersebut, tidak ada jaringan logam tambahan yang tertinggal di dalam pembuluh darah.

Menurut Rizki, kondisi tersebut dapat membantu mempertahankan struktur alami pembuluh darah dan mempermudah apabila pasien membutuhkan prosedur intervensi lain pada masa mendatang.

“Inovasi ini hadir untuk membuka kembali aliran darah ke otot jantung dengan cara yang makin aman, minimal invasif, serta memberikan hasil jangka panjang yang lebih baik,” ujarnya.

Perkembangan DCB menjadi bagian dari evolusi teknologi intervensi koroner yang sebelumnya dimulai dari angioplasti menggunakan balon konvensional.

Pada tahap berikutnya berkembang penggunaan stent logam untuk mempertahankan pembuluh darah tetap terbuka setelah dilakukan pelebaran.

Namun, pada sebagian pasien dapat terjadi pertumbuhan jaringan di dalam stent yang menyebabkan pembuluh kembali menyempit atau restenosis.

Teknologi kemudian berkembang menjadi stent berbalut obat yang dirancang untuk mengurangi pertumbuhan jaringan berlebih.

DCB menjadi salah satu inovasi berikutnya dengan pendekatan penghantaran obat melalui permukaan balon tanpa meninggalkan implan permanen di dalam pembuluh darah.

Rizki mengingatkan bahwa tidak semua pasien membutuhkan prosedur yang sama.

“Pemilihan metode intervensi jantung, baik menggunakan ring berbalut obat maupun balon berbalut obat harus didasarkan pada evaluasi klinis serta struktur anatomi pembuluh darah pasien,” tegasnya.

Karena itu, penggunaan DCB maupun stent tetap perlu ditentukan oleh dokter berdasarkan kondisi klinis, lokasi penyempitan, ukuran pembuluh darah dan kebutuhan masing-masing pasien.

ANTARA