BORNEONEWS, New York – Presiden Amerika Serikat Donald Trump berharap kesepakatan dengan Iran dapat dicapai di tengah upaya diplomasi yang berlangsung pada Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa di New York.
Trump mengatakan Washington masih berkomunikasi dengan Teheran dan menilai peluang menuju penyelesaian tetap terbuka.
“Semoga mereka melakukan hal yang benar dengan cepat sebelum terlambat. Anda tahu akan ada saat ketika semuanya sudah terlambat,” kata Trump dalam pidatonya di Sidang Majelis Umum PBB, Selasa, 22 September 2026.
Dalam pidato tersebut, Trump juga menyampaikan pilihan secara keras antara tercapainya kesepakatan dan berlanjutnya konfrontasi dengan Iran. Pernyataannya muncul ketika kedua pihak masih terlibat komunikasi melalui jalur diplomatik.
Setelah pidato itu, Trump kembali menyatakan optimisme bahwa Washington dan Teheran pada akhirnya dapat mencapai penyelesaian.
“Saya pikir sebuah penyelesaian akan tercapai,” kata Trump setelah bertemu Perdana Menteri Inggris Andy Burnham di sela Sidang Umum PBB.
Menurut Trump, komunikasi dengan Iran masih berlangsung pada hari yang sama.
Ia juga kembali menegaskan posisi Washington bahwa Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir.
Reuters melaporkan utusan Amerika Serikat Steve Witkoff mengatakan kedua pihak terlibat pembicaraan panjang melalui mediator yang bolak-balik menyampaikan pesan antara delegasi AS dan Iran sepanjang Selasa.
Upaya diplomasi tersebut berlangsung di tengah konflik yang telah berjalan hampir tujuh bulan sejak serangan bersama Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran, yang kemudian dibalas oleh Teheran.
Konflik tersebut telah berdampak pada keamanan kawasan, jalur pelayaran dan pasar energi global.
Di tengah ketegangan itu, sejumlah negara kawasan juga mendorong penyelesaian diplomatik serta pemulihan aktivitas pelayaran di Selat Hormuz.
Seorang pejabat senior Iran sebelumnya menyatakan Teheran dapat membuka kembali Selat Hormuz jika Amerika Serikat mengurangi tekanan militer dan mencabut blokade terhadap pelabuhan Iran.
Namun, Iran juga menegaskan tidak akan menerima tekanan sepihak dalam proses perundingan.
Parlemen dan militer Iran dalam pernyataan terpisah menanggapi keras ancaman Trump serta menegaskan kesiapan mempertahankan negaranya apabila serangan kembali terjadi.
Selain tekanan militer, Washington sejak Agustus 2026 meningkatkan tekanan ekonomi terhadap Iran melalui Operation Economic Outcast.
Departemen Keuangan AS menyebut kampanye tersebut bertujuan memutus jaringan pendapatan dan akses keuangan yang menopang pemerintah Iran.
Meski retorika kedua pihak tetap keras, komunikasi yang masih berlangsung di sela Sidang Umum PBB menunjukkan jalur diplomasi belum sepenuhnya tertutup.
Trump bahkan menyatakan hubungan komunikasi antara kedua negara mulai berkembang, meski belum ada kepastian kapan kesepakatan dapat dicapai.
ANTARA









