PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya – Dinas Kesehatan Kota Palangka Raya mencatat 9.324 kasus infeksi saluran pernapasan akut atau ISPA sejak Juni hingga September 2026, bersamaan dengan periode kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan yang melanda daerah tersebut.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Palangka Raya Riduan mengatakan angka tersebut merupakan akumulasi pasien yang mendapat pelayanan di puskesmas, rumah sakit pemerintah maupun fasilitas kesehatan lainnya.

“Dari bulan Juni sampai dengan September hari kemarin itu ada 9.324 kasus ISPA yang terdeteksi,” kata Riduan di Palangka Raya, Rabu, 23 September 2026.

Dari keseluruhan kasus yang tercatat, sekitar 30 persen terjadi pada bayi dan balita, 40 persen pada kelompok usia dewasa, serta 30 persen pada kelompok lanjut usia.

Menurut Riduan, jumlah pasien yang datang dengan keluhan ISPA berbeda setiap harinya.

“Kasus ISPA ini terjadi setiap hari dengan jumlah bervariasi. Data kasus yang kami catat ini merupakan warga yang ditangani petugas pusat layanan kesehatan baik di puskesmas maupun rumah sakit pemerintah dan pusat layanan kesehatan lainnya di Kota Palangka Raya,” ujarnya.

Khusus sejak awal hingga 20 September 2026, Dinkes mencatat 2.076 kasus ISPA.

Sementara sepanjang Agustus 2026 jumlahnya mencapai 3.104 kasus.

Keluhan yang paling sering ditemukan berupa batuk, pilek dan demam. Kondisi pasien dapat menjadi lebih berat apabila memiliki penyakit penyerta seperti asma.

Dalam kondisi tersebut, pasien biasanya perlu mendapat penanganan lebih lanjut di rumah sakit.

“Kalau ada penyakit penyerta seperti asma biasanya kami rujuk ke rumah sakit karena penanganannya membutuhkan waktu sekitar dua sampai tiga hari. Sampai saat ini juga tidak ada korban jiwa karena ISPA,” kata Riduan.

Untuk menghadapi meningkatnya keluhan kesehatan selama kabut asap, Dinkes Palangka Raya menyiapkan 20 Rumah Oksigen.

Fasilitas tersebut tersebar di 11 puskesmas serta sembilan titik lain yang dilayani melalui kelurahan dan posyandu.

“Sesuai arahan pimpinan kami juga akan berkoordinasi dengan posyandu dan kelurahan lain untuk masing-masing menyiapkan Rumah Oksigen,” katanya.

Masyarakat juga diminta mengurangi aktivitas di luar rumah ketika kualitas udara memburuk.

Jika harus keluar rumah, warga disarankan menggunakan masker untuk mengurangi paparan partikel asap, terutama anak-anak, lansia, ibu hamil dan masyarakat dengan penyakit penyerta.

Dinkes juga mengingatkan masyarakat menjaga kondisi tubuh dengan mengonsumsi makanan bergizi, memperbanyak minum air putih, beristirahat cukup dan memenuhi kebutuhan vitamin.

Warga yang mengalami batuk, pilek, demam maupun sesak napas diminta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan.

Penanganan sejak awal diharapkan dapat mencegah keluhan berkembang menjadi kondisi yang lebih berat selama kualitas udara belum sepenuhnya membaik.