BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Penanganan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Taman Nasional Tanjung Puting (TNTP) menggunakan helikopter water bombing (WB) menunjukkan progres signifikan.
Kehadiran helikopter WB yang bermarkas di Lanud Iskandar Pangkalan Bun, menambah kekuatan dalam penanganan Karhutla di wilayah Kalimantan Tengah.
Danlanud Iskandar Pangkalan Bun Letkol Pnb Nugroho Tri Widyanto melalui Kepala Dinas Operasi Lanud Iskandar Pangkalan Bun Kapten Pom Valentino Pratama mengatakan, dalam beberapa hari terakhir helikopter WB telah dikerahkan untuk menangani Karhutla di kawasan TNTP.
"Sampai hari Selasa kemarin, 22 September 2026, sudah melakukan 43 kali penyiraman. Target tercapai 5 hektare dari 9 hektare yang terbakar," ujarnya, Rabu, 23 September 2026.
Menurut Valentino, operasional helikopter WB sangat bergantung pada kondisi visibility atau jarak pandang. Untuk melaksanakan penerbangan dalam misi pemadaman, jarak pandang yang aman harus berada di atas 4.000 meter.
Ia mencontohkan kondisi di Pangkalan Bun yang secara kasat mata terlihat cerah, namun visibility hanya sekitar 3.000 meter. Dalam kondisi tersebut, pilot belum berani melaksanakan misi penerbangan.
"Setiap penerbangan selalu menunggu visibility membaik. Biasanya kondisi baik di jam 11.00 sampai 14.00 WIB," jelasnya.
Setelah kondisi jarak pandang memenuhi persyaratan, jumlah sorti penerbangan juga disesuaikan dengan situasi di lapangan.
Dalam satu kali sorti, helikopter berangkat dari Lanud Iskandar menuju lokasi pengambilan air, kemudian membawa air untuk dijatuhkan ke titik kebakaran.
Proses tersebut dapat dilakukan berulang kali, sekitar 10 hingga 20 kali, sebelum helikopter kembali ke Lanud Iskandar untuk melakukan pengisian bahan bakar.
"Hal ini tergantung visibility. Kalau dalam keadaan bagus bisa satu sampai dua kali sorti sehari. Sejauh ini satu dan dua sorti," katanya.
Untuk saat ini, penanganan menggunakan helikopter WB masih dipusatkan di kawasan TNTP. Helikopter tersebut merupakan pergeseran dari Palangka Raya dan saat ini baru terdapat satu unit yang beroperasi di Pangkalan Bun.
TNTP menjadi prioritas penanganan karena kawasan tersebut merupakan hutan yang dilindungi dan menjadi habitat berbagai satwa.
"Kalau sampai dibiarkan atau berlanjut, bahkan TNTP terbakar hingga separuh atau tiga perempat habis terbakar, tentu akan menjadi isu internasional dan dibicarakan seluruh dunia bagaimana langkah Indonesia dalam menangani Karhutla," ungkapnya.
Ia menambahkan, keberadaan helikopter WB di Kabupaten Kotawaringin Barat diharapkan dapat memperkuat upaya penanganan Karhutla di wilayah Kalimantan Tengah.
Dengan dukungan penanganan dari udara dan Satgas di lapangan, diharapkan kebakaran hutan dan lahan di TNTP dapat segera tertangani dengan baik. "Semoga Karhutla bisa tertangani dengan baik," pungkasnya. (DANANG/R)









