JAKARTA –

BORNEONEWS, Jakarta – Bandara Tjilik Riwut Palangka Raya, Bandara Iskandar Pangkalan Bun dan Bandara Haji Muhammad Sidik Muara Teweh menjadi tiga bandar udara di Kalimantan Tengah yang terdampak penurunan jarak pandang akibat kabut asap kebakaran hutan dan lahan.

Kementerian Perhubungan mencatat jarak pandang terendah selama periode 14–20 September 2026 bahkan mencapai sekitar 50 meter di sejumlah bandar udara, termasuk ketiga bandara di Kalteng tersebut.

Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kemenhub Lukman F. Laisa menegaskan setiap keputusan operasional tetap mengutamakan aspek keselamatan.

“Keselamatan penerbangan tetap menjadi prioritas utama,” kata Lukman di Jakarta, dikutip Kamis, 24 September 2026.

Menurutnya, kabut asap karhutla dapat menurunkan jarak pandang di sekitar bandar udara dan secara langsung memengaruhi kelancaran operasional pesawat.

Apabila visibility berada di bawah batas minimum operasional, penerbangan dapat mengalami keterlambatan, penundaan, pembatalan maupun pengalihan berdasarkan evaluasi kondisi lapangan.

Kalimantan Tengah tercatat sebagai wilayah dengan dampak penerbangan tertinggi dalam pemantauan Kantor Otoritas Bandar Udara Wilayah VII Balikpapan selama 14–20 September 2026.

Sebanyak 201 penerbangan di Kalteng terdampak, terdiri atas 79 penerbangan mengalami keterlambatan, 121 dibatalkan atau ditunda, serta satu penerbangan dialihkan.

Secara keseluruhan, 409 penerbangan terdampak di wilayah kerja otoritas tersebut.

Jumlah itu terdiri atas 141 penerbangan mengalami delay, 254 penerbangan dibatalkan atau ditunda dan 14 penerbangan dialihkan.

Angka tersebut meningkat tajam dibanding periode 7–13 September 2026 yang mencatat 159 penerbangan terdampak.

Selain Kalteng, Kalimantan Timur mencatat 138 penerbangan terdampak dan Kalimantan Utara sebanyak 70 penerbangan.

Di Bandara Tjilik Riwut Palangka Raya, kabut asap bahkan membuat sejumlah maskapai menghentikan sementara layanan penerbangan.

Garuda Indonesia dilaporkan tidak beroperasi hingga 26 September, Citilink hingga 27 September, sedangkan Lion Group menghentikan sementara operasional hingga 24 September 2026.

Gangguan lebih panjang juga terjadi di Bandara Haji Muhammad Sidik, Muara Teweh.

Penerbangan dari dan menuju bandara tersebut sebelumnya telah dibatalkan selama sekitar satu bulan akibat jarak pandang yang tidak memenuhi persyaratan operasional.

Bandara Haji Muhammad Sidik merupakan bandar udara yang mengandalkan visual dengan kebutuhan jarak pandang sekitar 5.000 meter lebih. Pada 17 September 2026, jarak pandang di kawasan tersebut bahkan hanya sekitar 100 meter.

Sementara Bandara Iskandar Pangkalan Bun juga masuk dalam pemantauan dampak asap karhutla.

Pada pemantauan sebelumnya, penurunan jarak pandang di Bandara Iskandar sempat menyebabkan sejumlah penerbangan mengalami keterlambatan.

Lukman mengatakan Ditjen Perhubungan Udara terus berkoordinasi dengan pengelola bandar udara, AirNav Indonesia, maskapai dan instansi terkait untuk memantau perkembangan visibility dan menentukan langkah operasional.

“Kami terus berkoordinasi dengan penyelenggara bandar udara, penyedia pelayanan navigasi penerbangan, operator penerbangan, serta instansi terkait untuk memastikan operasional penerbangan dapat berjalan dengan tetap memperhatikan keselamatan, keamanan, keteraturan, dan kelancaran penerbangan,” ujarnya.

Kemenhub juga berkoordinasi dalam pelaksanaan patroli udara maupun operasi water bombing agar kegiatan penanganan karhutla tidak mengganggu keselamatan penerbangan.

Bagi penumpang yang terkena dampak keterlambatan atau pembatalan, maskapai diwajibkan memenuhi hak penumpang sesuai ketentuan, termasuk kompensasi, penjadwalan ulang maupun pengembalian biaya tiket sesuai kondisi.

Masyarakat yang akan menggunakan transportasi udara dari dan menuju wilayah terdampak kabut asap juga diminta memeriksa informasi penerbangan melalui kanal resmi maskapai dan bandar udara sebelum berangkat.

ANTARA