JAKARTA –

BORNEONEWS, Jakarta – Masyarakat Singkong Indonesia (MSI) menyebut harga singkong di tingkat petani mulai menguat setelah pemerintah menghentikan impor komoditas tersebut. Di sejumlah sentra produksi, harga disebut telah mencapai sekitar Rp2.400 per kilogram.

Ketua Umum MSI Arifin Lambaga mengatakan kondisi tersebut memberikan ruang lebih besar bagi produksi petani dalam negeri untuk terserap pasar domestik.

“Alhamdulillah, terutama di Lampung sebagai salah satu sentra produksi singkong, harganya sudah bagus, sekitar Rp2.400 per kilogram. Kami berterima kasih kepada Pak Menteri dan Pak Presiden atas dukungan dan beberapa kebijakan, misalnya stop impor singkong,” kata Arifin seusai audiensi dengan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman di Jakarta, Rabu, 23 September 2026.

Menurutnya, penghentian impor bukan hanya berdampak terhadap harga, tetapi juga membuka peluang pengembangan pasar baru melalui industri bioetanol.

Arifin menilai kebutuhan bahan baku singkong berpotensi meningkat apabila program pencampuran bioetanol dengan bahan bakar dikembangkan lebih luas.

“Ini kebutuhan yang besar. Ini pasar yang sangat besar bagi kita,” ujarnya.

Untuk mendukung penerapan E20 atau campuran 20 persen bioetanol, MSI memperkirakan kebutuhan bioetanol dapat mencapai sekitar 2,2 juta kiloliter.

Besarnya kebutuhan tersebut dinilai membuka peluang bagi petani untuk meningkatkan produksi sekaligus memperluas areal tanam.

MSI bahkan menyatakan kesiapan mendukung pengembangan campuran bioetanol pada tingkat lebih tinggi apabila kebutuhan bahan baku dapat dipenuhi.

“Kami siap 100 persen mendukung program E50. Yang penting bahannya,” kata Arifin.

Untuk mendukung kebutuhan tersebut, MSI menyatakan siap berpartisipasi dalam pengembangan sekitar 500 ribu hektare lahan singkong.

Namun, pengembangan dalam skala besar membutuhkan kesiapan dari sektor hulu, terutama ketersediaan benih unggul, pupuk, alat dan mesin pertanian, serta akses pembiayaan.

Arifin mengatakan satu hektare lahan singkong membutuhkan sekitar 8.000 hingga 10.000 stek. Karena itu, penambahan areal hingga ratusan ribu hektare memerlukan pasokan benih dalam jumlah sangat besar.

“Benihnya harus benih unggul yang bisa menghasilkan produktivitas singkong dan kadar pati yang baik. Karena yang untuk diolah menjadi bioetanol itu tergantung pada patinya,” ujarnya.

Selain mempersiapkan produksi, MSI juga telah menjalin komunikasi dengan sejumlah investor yang berminat mengembangkan industri pengolahan singkong menjadi bioetanol.

“Kami sudah melakukan beberapa kontak dengan para investor, terutama di pengolahan singkong menjadi bioetanol. Beberapa investor sudah siap,” katanya.

Menurut Arifin, kepastian pasar atau off-taker tetap menjadi faktor penting agar investasi dapat segera direalisasikan.

Kepastian tersebut dibutuhkan agar peningkatan produksi petani dapat terserap dan tidak justru menimbulkan kelebihan pasokan.

MSI mengusulkan pengembangan industri bioetanol dilakukan secara bertahap dan terintegrasi dengan sentra produksi singkong.

Salah satu skema yang didorong adalah pola kemitraan inti-plasma agar petani dapat terlibat langsung sebagai pemasok bahan baku industri.

Pengembangan bioetanol dinilai dapat memperluas hilirisasi singkong sekaligus meningkatkan nilai tambah komoditas tersebut.

Sebelumnya, Kementerian Pertanian menetapkan harga singkong sebesar Rp1.350 per kilogram. MSI berharap pengendalian impor dapat terus berjalan beriringan dengan peningkatan produksi dan pembukaan pasar baru bagi petani.