BORNEONEWS, Kuala Pembuang - Membaca nyaring bukan sekadar membacakan teks atau berbicara dengan suara keras, melainkan sarana membangun kedekatan emosional antara orang tua dan anak. Melalui suara yang diperdengarkan dengan penuh kehangatan, akan tumbuh rasa aman dan ikatan batin yang kuat, sehingga anak tidak hanya mengenal cerita, tetapi juga perlahan menumbuhkan kecintaan terhadap buku.
“Melalui suara orang tua, guru, dan para pendamping literasi, anak-anak mulai mengenal bahasa, emosi, dan imajinasi. Di situlah benih kecintaan membaca tumbuh, bukan karena paksaan, tetapi karena rasa senang dan nyaman,” ujar Bunda Sita Mahrita, S.Pd. PAUD Kepala TK Tunas Agro 2, Kamis, 24 September 2026.
Ia menjelaskan bahwa membaca nyaring merupakan jembatan awal dalam membangun literasi. Meski anak belum mampu membaca secara mandiri, mereka tetap dapat menyerap kosakata, intonasi, dan makna melalui cerita yang disampaikan. Menurutnya, literasi seharusnya dimulai dari hal sederhana, yakni meluangkan waktu untuk berbagi cerita.
“Ketika anak merasa didengar dan ditemani, buku tidak lagi terasa asing, melainkan menjadi sahabat yang menyenangkan. Dari kebiasaan kecil inilah akan tumbuh generasi yang gemar membaca dan berpikir kritis,” katanya.
Bunda Siti juga mengajak seluruh pihak, baik keluarga, sekolah, maupun komunitas, untuk menjadikan membaca nyaring sebagai budaya. Ia menilai, gerakan literasi tidak cukup berhenti di ruang kelas, tetapi harus hidup di rumah dan ruang-ruang publik sebagai bagian dari keseharian anak.
“Jangan pernah lelah untuk menjadi orang tua yang hebat. Biasakan anak mendengar cerita, mendongeng, dan berbagi pengalaman setiap hari. Intensitas komunikasi yang hangat antara orang tua dan anak akan membentuk ikatan emosional yang kuat serta melahirkan generasi yang cerdas, percaya diri, dan berkarakter,” ajaknya.
Sementara itu, Pegiat literasi sekaligus Relima Perpusnas RI 2025/2026 Nopiar Rahman yang akrab di sapa Kak Nono yang juga Kepala Perpustakaan Cendekia SMP Tunas Agro ini menyampaikan bahwa kegiatan Membaca nyaring menjadi salah satu langkah strategis dalam memperkuat ekosistem literasi di TK. Tunas Agro 2 dan sekitarnya.
Ia menegaskan, gerakan membaca nyaring ke depan tidak hanya dilakukan di sekolah TK atau PAUD, tetapi akan dimasifkan hingga tingkat kecamatan dan kelurahan bahkan Kabupaten.
“Kami memiliki Taman Bacaan Masyarakat di wilayah sini yang siap dikembangkan bersama warga. Harapannya, akan muncul duta-duta baca dari kalangan orang tua yang menjadi penggerak literasi di lingkungannya masing-masing,” jelas Kak Nono.
Menurutnya, membaca nyaring berperan penting dalam memperkaya kosakata anak pada fase sebelum mereka memasuki tahap menulis. Dengan kosakata yang sudah tertanam sejak dini, anak akan lebih siap saat memasuki usia sekolah, baik secara kognitif maupun emosional.
“Anak yang terbiasa mendengar cerita akan lebih mudah belajar menulis karena sudah mengenal banyak kata. Selain itu, hubungan emosional antara orang tua dan anak juga semakin kuat,” ungkapnya.
Kak Nono, berharap dapat memperkuat pendampingan bagi orang tua, khususnya keluarga muda, agar membiasakan anak berkomunikasi, bercerita, dan membaca sejak dini.
Dengan demikian, literasi tidak hanya menjadi tanggung jawab sekolah, tetapi tumbuh dari lingkungan keluarga sebagai fondasi utama pembentukan karakter, sehingga anak dapat berkembang menjadi pribadi yang percaya diri, komunikatif, dan berkarakter,” pungkasnya. (*)









