PANGKALAN BUN –

BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Dinas Kesehatan Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar) meminta masyarakat lebih berhati-hati menggunakan air untuk kebutuhan sehari-hari di tengah kondisi kekeringan yang melanda sejumlah wilayah.

Kepala Dinas Kesehatan Kobar Hardino, Kamis, 24 September 2026 mengatakan, kekeringan dapat berdampak terhadap kualitas air yang digunakan masyarakat dan berpotensi memicu gangguan kesehatan, termasuk diare.

"Kalau diare, memang kekeringan sudah di mana-mana. Yang jadi permasalahan itu kualitas airnya sudah tidak maksimal dan tidak terpantau secara maksimal," jelas Hardino.

Menurut Hardino, kondisi air juga berpotensi tercemar akibat proses pembakaran yang terjadi selama karhutla. Selain itu, sumber air dari jaringan PDAM di sejumlah wilayah mulai terasa asin.

"Airnya itu tercemar dari proses pembakaran. Ditambah lagi sumber air kita yang dari PDAM sudah mulai terasa asin," jelas Hardino.

Karena kondisi tersebut, Hardino mengingatkan masyarakat agar tidak lagi menggunakan air secara langsung untuk konsumsi. Air yang digunakan untuk minum maupun kebutuhan rumah tangga harus dipastikan telah melalui proses pengolahan.

"Kalau diare, ini harus dengan sumber air yang benar-benar sudah diolah, baik secara pabrik yang sudah jadi, ataupun diolah secara rumah tangga. Sangat wajib direbus terlebih dulu," jelas Hardino.

Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kobar, kasus diare akut sempat mencapai 183 kasus pada Minggu Epidemiologi (M)-30. Jumlah tersebut kemudian turun menjadi 137 kasus pada M-31, 133 kasus pada M-32, 137 kasus pada M-33, 142 kasus pada M-34, 99 kasus pada M-35 dan 58 kasus pada M-36.

Secara keseluruhan, kasus diare akut pada M-36 turun sekitar 68,3 persen dibandingkan puncak kasus pada M-30. (WAHYU KRIDA/J)