BORNEONEWS, Sampit – Polemik penyiraman jalan di Jalan H Muhammad Noor RT 003/RW 001, Kelurahan Samuda Kota, Kecamatan Mentaya Hilir Selatan, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), belum menemui titik terang.
Setelah sebelumnya Norsariyati menyampaikan keberatannya lantaran dipanggil pihak kelurahan, kini giliran H Syamsyudinnor atau yang akrab disapa H Isam memberikan klarifikasi terkait persoalan yang menjadi perhatian warga tersebut.
Saat ditemui, Kamis (24/9/2026), H Isam menjelaskan persoalan bermula dari kondisi badan jalan yang sebelumnya telah ditimbun kembali karena mengalami kerusakan.
"Sebelumnya memang rusak, terus kami timbun karena jalan itu dekat dengan masjid agar memudahkan yang mau beribadah dan juga akses masyarakat. Penimbunan itu kami lakukan rutin sebagai bentuk kepedulian," ucapnya.
Namun, persoalan muncul setelah aktivitas penyiraman air dilakukan di badan jalan. H Isam menyebut penyiraman telah berlangsung sekitar tiga bulan dan dalam sehari dapat dilakukan dua hingga tiga kali.
Ia mempersoalkan volume air yang dinilai terlalu banyak hingga membuat badan jalan tergenang dan air mengalir ke bagian jalan lainnya.
“Kalau mau menyiram di sekitar warung, silakan. Kita tidak melarang menyiram, tetapi sewajarnya. Jangan sampai tergenang dan airnya sampai ke jalan,” ujar H Isam.
Ia mengaku telah beberapa kali memberikan teguran kepada Norsariwati. Namun, H Isam membantah teguran tersebut dimaksudkan untuk memojokkan.
Terkait tudingan dirinya menegur dengan nada tinggi dan mata melotot, ia mengakui memang memberikan teguran, tetapi membantah sikap tersebut dilakukan sebagaimana yang dituduhkan.
“Kita benar menegur, cuma masalah nada tinggi dan mata melotot itu tidak benar. Memang itu nada saya,” katanya.
Dirinya juga meluruskan mengenai persoalan yang akhirnya sampai ke Kelurahan Samuda Kota.
Ia membantah menjadi pihak yang secara langsung melaporkan Norsariyati ke kelurahan. Menurutnya, keluhan tersebut disampaikan Ketua RT setelah muncul keresahan dari sejumlah warga mengenai kondisi jalan.
“Kalau soal saya melapor, tanya saja ke kelurahan. Yang melapor itu Ketua RT,” tegasnya.
Setelah persoalan tersebut ditangani pihak kelurahan, H Isam mengaku bersedia mengikuti proses mediasi dan menyatakan siap berdamai.
Namun, pertemuan yang digelar Selasa (22/9/2026) belum menghasilkan kesepakatan antara kedua pihak.
Ia mengaku telah beberapa kali menyampaikan permintaan maaf. Namun, menurutnya, penyelesaian tersebut belum diterima pihak Norsariyati.
"Pada mediasi itu saya juga sudah minta maaf, tapi yang bersangkutan tidak memaafkan malah mengancam akan melanjutkan ke jalur hukum karena pencemaran nama baik," imbuhnya.
Persoalan tersebut turut mendapat perhatian Mantir Adat Samuda Kota, Abdul Manap. Ia mengaku telah melihat langsung kondisi jalan yang dipersoalkan warga tersebut. Menurutnya, kondisi jalan cukup parah, terutama ketika permukaannya dalam keadaan basah.
“Memang parah. Kemarin itu banyak perempuan dan anak-anak yang jatuh. Warga yang berjalan kaki, termasuk orang tua, juga kesulitan karena jalannya licin,” ujar Abdul Manap.
Ia mengatakan dirinya tidak pernah secara langsung menegur pihak yang melakukan penyiraman. Namun, berdasarkan informasi yang diterimanya, sudah cukup banyak warga yang memberikan teguran.
Ia berharap persoalan tersebut tidak berkembang menjadi konflik antarwarga dan dapat diselesaikan melalui mediasi.
“Saya berharap jangan sampai masalah ini berlanjut. Kalau bisa dimediasi dulu, didamaikan. Jangan sampai persoalan yang sebenarnya kecil justru menjadi konflik,” katanya.
Sementara itu, Migran, salah seorang warga RT 04, mengatakan masyarakat sekitar ikut merasakan dampak dari kondisi jalan tersebut.
Menurutnya, penyiraman jalan untuk mengurangi debu merupakan hal yang dapat dipahami. Namun, volume air yang terlalu banyak justru dinilai membuat kondisi jalan semakin sulit dilalui.
“Niatnya mungkin baik, untuk mengurangi debu. Tetapi menurut kami penyiramannya berlebihan. Jalan yang awalnya tidak terlalu berlubang akhirnya menjadi lubang besar,” ungkapnya.
Migran juga menilai H Isam selama ini turut memberikan kontribusi kepada masyarakat sekitar. Karena itu, ia berharap persoalan tersebut tidak sampai merusak hubungan antarwarga.
" Sebagian warga sempat mempertimbangkan untuk menyampaikan aspirasi melalui aksi terbuka apabila persoalan tidak kunjung menemukan penyelesaian. Tapi kami berharap mediasi tetap menjadi jalan utama, " harapnya. (DEVI/y)









