BORNEONEWS, Sampit - Kualitas udara di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) terpantau pada aplikasi ISPUnet Kementerian Lingkungan Hidup (KLH), pada pukul 16.00 WIB mencapai 1.249.
Kondisi kualitas udara berbahaya yang sudah berlangsung sekitar sebulan tersebut membuat warga Sampit semakin merindukan udara sehat bebas asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Secara rinci data aplikasi ISPUnet Kementerian Lingkungan Hidup (KLH), pada pukul 16.00 WIB, nilai Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) Kotim mencapai 1.249 untuk parameter PM10. Sementara parameter PM2,5 tercatat 649.
Angka tersebut menempatkan Kotim di urutan kedua wilayah dengan kualitas udara paling berbahaya berdasarkan data yang tercatat saat itu. Kabupaten Gunung Mas berada di urutan pertama dengan nilai ISPU 1.893, sedangkan Kabupaten Murung Raya berada di urutan ketiga dengan nilai 863.
Kondisi udara yang memburuk dirasakan langsung masyarakat Sampit. Kabut asap tidak hanya mengurangi jarak pandang, tetapi juga membuat udara terasa pekat dan tidak nyaman untuk dihirup.
Dinar, salah satu warga Sampit, mengatakan kondisi asap telah berlangsung lebih dari sebulan. Menurutnya, kondisi paling parah dirasakan dalam beberapa hari terakhir karena asap muncul hampir sepanjang waktu.
"Sampai kapan kami harus menghirup udara buruk seperti ini? Bukan kabut biasa, lihat partikel-partikel kebakaran beterbangan dimana-mana. Tentunya ini sangat buruk untuk kesehatan jika terhirup. Sudah sebulan lebih kondisi berasap seperti ini. Yang paling parah ya akhir-akhir ini, dari pagi sampai pagi lagi berasap," ujar Dinar, Kamis, 24 September 2026.
Ia mengaku kondisi tersebut mulai dirasakan mengganggu aktivitas sehari-hari. Bahkan, orang dewasa saja dapat merasakan pusing ketika terlalu lama menghirup udara yang dipenuhi asap.
"Kita yang dewasa saja terasa pusing menghirupnya, apalagi anak-anak, bayi, lansia. Harus ada langkah yang benar-benar bisa menghentikan kebakaran ini," katanya.
Dinar berharap penanganan karhutla dilakukan secara serius agar kualitas udara segera membaik. Ia juga menyampaikan kerinduan menghirup udara yang sehat.
"Kami sebagai warga rindu menghirup udara yang sehat," pungkasnya. (DEWI PATMALASARI/H)









