BORNEONEWS, Sampit - Dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mulai semakin dirasakan masyarakat di kawasan permukiman Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim). Tak hanya kabut asap, partikel sisa kebakaran lahan juga dilaporkan beterbangan hingga masuk ke rumah warga.
Abu dan partikel hasil pembakaran terlihat berhamburan di teras, halaman, kendaraan, hingga sejumlah bagian rumah warga. Partikel berukuran halus juga dapat masuk melalui pintu, jendela maupun celah rumah yang terbuka dan kemudian menempel di lantai serta perabotan.
Kondisi tersebut membuat warga harus lebih sering membersihkan rumah karena abu terus terbawa angin. Bahkan, partikel berwarna hitam dari sisa kebakaran semak dan lahan ikut ditemukan di sekitar permukiman.
Irianti, warga Kelurahan Ketapang, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang, mengatakan partikel sisa pembakaran kembali terlihat meski teras rumah baru saja dibersihkan.
"Saya baru saja menyapu teras rumah, langsung muncul lagi kelelatunya. Bukan cuma yang debu kecil-kecil, partikel yang besar itu yang hitam-hitam bekas semak-semak kebakar juga sudah sampai sini. Padahal di dekat sini tidak ada lahan terbakar," ujar Irianti, Kamis, 24 September 2026.
Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan dampak karhutla tidak hanya dirasakan warga yang tinggal berdekatan dengan lokasi kebakaran. Partikel sisa kebakaran lahan dapat terbawa angin hingga kawasan permukiman.
"Sudah parah betul. Kalau asap sebulan lebih sudah kami rasakan. Kalau debu beterbangan ini beberapa minggu ini. Artinya kebakaran bukannya berkurang, malah tambah parah," tandasnya.
Sementara itu, Dinar, warga Kecamatan Baamang, mengatakan kabut asap telah dirasakan lebih dari sebulan. Namun, kondisi semakin mengganggu dalam beberapa hari terakhir karena asap muncul hampir sepanjang waktu.
"Sampai kapan kami harus menghirup udara buruk seperti ini? Bukan kabut biasa, lihat partikel-partikel kebakaran beterbangan dimana-mana. Tentunya ini sangat buruk untuk kesehatan jika terhirup. Sudah sebulan lebih kondisi berasap seperti ini. Yang paling parah ya akhir-akhir ini, dari pagi sampai pagi lagi berasap," ujar Dinar.
Dinar mengaku kondisi udara tersebut mulai mengganggu aktivitas sehari-hari. Keluhan tidak hanya dirasakan oleh kelompok rentan, tetapi juga orang dewasa yang terpapar asap dalam waktu lama.
"Kita yang dewasa saja terasa pusing menghirupnya, apalagi anak-anak, bayi, lansia. Harus ada langkah yang benar-benar bisa menghentikan kebakaran ini," katanya.
Ia berharap penanganan karhutla dapat dilakukan secara serius agar kebakaran segera dikendalikan dan kualitas udara kembali membaik. "Kami sebagai warga rindu menghirup udara yang sehat," pungkasnya. (DEWI PATMALASARI/y)









