BORNEONEWS, Palangka Raya - Pernyataan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana atau BNPB kepada Presiden Prabowo Subianto yang menyebut kehidupan masyarakat tetap berjalan normal di tengah situasi kebakaran hutan dan lahan atau karhutla menuai kritik.
Pernyataan tersebut dinilai tidak sepenuhnya mencerminkan kondisi yang masih dihadapi masyarakat, khususnya di Kalimantan Tengah yang terdampak kabut asap akibat karhutla.
Taufikurahman, mahasiswa Magister Administrasi Publik atau MAP, mengatakan kondisi masyarakat tidak dapat disebut normal hanya karena aktivitas sehari-hari masih tetap berlangsung.
“Jangan karena masyarakat masih bekerja, berjualan, dan beraktivitas kemudian kondisi disebut normal. Mereka tetap beraktivitas karena harus bertahan hidup,” ujar Taufikurahman pada Kamis, 24 September 2026.
Menurut dia, persoalan yang dihadapi masyarakat Kalteng tidak hanya berkaitan dengan karhutla dan kabut asap.
Di sejumlah wilayah, masyarakat juga menghadapi persoalan keterbatasan air bersih, antrean BBM hingga pemadaman listrik.
“Bagaimana bisa disebut normal ketika masyarakat masih menghadapi asap, kesulitan air bersih, harus mengantre BBM, bahkan mengalami pemadaman listrik? Ini jelas bukan kondisi normal bagi masyarakat,” tegasnya.
Taufikurahman menilai pemerintah perlu melihat kondisi masyarakat secara lebih utuh. Menurutnya, keberlangsungan aktivitas ekonomi tidak dapat dijadikan satu-satunya indikator untuk menyimpulkan kondisi masyarakat dalam keadaan normal.
“Normal itu bukan sekadar jalan masih ramai atau toko masih buka. Normal berarti masyarakat dapat menjalani kehidupan dengan aman, kebutuhan dasarnya terpenuhi, dan tidak terus-menerus menghadapi gangguan,” katanya.
Ia meminta pemerintah menyampaikan kondisi lapangan secara objektif kepada Presiden. Dengan demikian, kebijakan dan penanganan yang dilakukan pemerintah dapat benar-benar menjawab persoalan yang dihadapi masyarakat di daerah terdampak karhutla.
“Yang dibutuhkan masyarakat bukan laporan yang terlihat baik, tetapi kejujuran dan tindakan nyata. Jangan sampai ketangguhan masyarakat justru dianggap sebagai bukti bahwa semuanya baik-baik saja,” pungkasnya.
Ia menegaskan, kondisi masyarakat yang tetap beraktivitas tidak berarti berbagai persoalan yang mereka hadapi telah selesai. “Jangan normalisasi keadaan yang sebenarnya sedang tidak normal,” ujarnya.(TESTI PRISCILLA)









