JAKARTA –

BORNEONEWS, Jakarta – Film Memburu Pemangsa membawa isu kekerasan terhadap anak ke layar lebar melalui kisah investigasi empat jurnalis yang berusaha mengungkap serangkaian kasus hilangnya anak.

Film garapan sutradara Umay Shahab itu memadukan unsur horor, kriminal, dan laga dengan latar aktivitas sebuah ruang redaksi. Sinemaku Pictures mencatat film tersebut resmi tayang mulai 24 September 2026 dan berdurasi sekitar 115 menit.

Cerita berpusat pada Agnes yang diperankan Laura Basuki, Cia oleh Prilly Latuconsina, Brina oleh Taskya Namya, serta Anya yang dimainkan Yasamin Jasem.

Keempatnya merupakan jurnalis yang terlibat dalam penelusuran hilangnya sejumlah anak. Kasus yang awalnya terlihat seperti penculikan kemudian membawa mereka pada persoalan yang semakin kompleks dan berbahaya.

Selain membangun ketegangan, film tersebut memberi porsi cukup besar pada proses kerja jurnalistik.

Para tokohnya digambarkan melakukan riset, memeriksa rekam jejak narasumber, mencari informasi di lapangan hingga menghadapi konsekuensi ketika proses verifikasi tidak berjalan dengan baik.

Pendekatan itu membuat ruang redaksi bukan sekadar latar, melainkan bagian penting dari perkembangan cerita.

Setiap tokoh juga membawa persoalan pribadi yang memengaruhi cara mereka menghadapi kasus.

Agnes hidup dengan trauma setelah kehilangan anaknya, sementara Cia memiliki kekhawatiran besar terhadap keselamatan keponakannya, Pandu.

Brina tampil lebih frontal ketika berada di lapangan dan beberapa kali terlibat konfrontasi fisik. Sementara Anya berperan kuat dalam proses riset, termasuk menelusuri berbagai simbol yang muncul dalam penyelidikan.

Hubungan kerja dan solidaritas empat jurnalis perempuan tersebut kemudian menjadi salah satu penggerak utama cerita.

Sinemaku Pictures mengategorikan Memburu Pemangsa sebagai film horor, kriminal, dan laga. Materi promosinya juga secara khusus membawa kampanye #JagaAnakAnak sebagai bagian dari pesan perlindungan anak.

Ketika penyelidikan semakin dekat dengan pelaku, unsur laga mulai mengambil porsi lebih besar. Prilly Latuconsina dan Taskya Namya mendapatkan sejumlah adegan perkelahian yang memberi perubahan ritme setelah bagian awal banyak diisi penelusuran informasi.

Sementara dari sisi visual, film banyak menggunakan pencahayaan gelap dan warna temaram untuk membangun suasana tidak nyaman sepanjang cerita.

Teuku Rifnu Wikana hadir sebagai salah satu sosok antagonis yang menjadi bagian penting dari ancaman yang dihadapi para jurnalis.

Di balik unsur hiburan tersebut, isu keselamatan anak tetap menjadi pusat cerita.

Memburu Pemangsa menyoroti pentingnya keberanian berbicara, kepedulian lingkungan sekitar, serta peran orang dewasa dalam mengenali dan merespons ancaman kekerasan terhadap anak.

Pesan itu juga diperkuat melalui kampanye #JagaAnakAnak yang menyertai perilisan film.

ANTARA