JAKARTA –

BORNEONEWS, Jakarta – Operasi Modifikasi Cuaca atau OMC upaya menurunkan hujan untuk penanganan kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan Tengah dilakukan secara situasional karena potensi awan konvektif pada puncak musim kemarau relatif rendah.

Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika Teuku Faisal Fathani mengatakan kondisi tersebut membuat OMC sangat bergantung pada keberadaan awan yang memenuhi syarat untuk dilakukan penyemaian.

“Karena sekarang untuk operasi modifikasi cuaca ini cukup sulit karena potensi awan konvektif itu sangat rendah pada puncak musim kemarau ini sehingga operasi modifikasi cuaca ini sangat situasional,” kata Faisal di Istana Kepresidenan, Jakarta, dikutip Jumat, 25 September 2026.

BMKG bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana dan Kementerian Kehutanan telah menyiapkan pesawat di enam provinsi prioritas karhutla.

Enam provinsi tersebut yakni Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan.

Pesawat tidak hanya disiapkan untuk modifikasi cuaca, tetapi juga digunakan melakukan patroli udara guna memantau perkembangan karhutla.

Apabila selama patroli ditemukan awan yang memiliki potensi untuk dimodifikasi, pesawat dapat segera dialihkan menjalankan OMC.

“Semua pesawat di setiap provinsi sudah kita siapkan bersama dengan BNPB dan Kementerian Kehutanan di enam provinsi prioritas. Pesawatnya digunakan sebagai mode patroli, tapi kemudian apabila ada potensi awan itu segera berubah menjadi modifikasi cuaca,” ujarnya.

Selain OMC, mitigasi karhutla dilakukan melalui operasi water bombing dari udara serta penguatan satuan tugas darat untuk melakukan pemadaman langsung di lokasi kebakaran.

Strategi tersebut disesuaikan dengan kondisi lapangan karena OMC tidak dapat dijalankan secara optimal tanpa keberadaan awan konvektif yang memadai.

BMKG mencatat OMC untuk pembasahan gambut dan penanganan karhutla memang menjadi salah satu bentuk operasi modifikasi cuaca yang digunakan di berbagai wilayah Indonesia.

Di sisi lain, BMKG terus memantau perkembangan musim hujan yang diharapkan membantu mengakhiri periode kemarau dan menekan risiko karhutla.

Faisal mengatakan beberapa wilayah prioritas karhutla, termasuk Kalimantan Tengah, diperkirakan mulai memasuki musim hujan pada Oktober 2026.

Namun, sebagian wilayah lainnya baru memasuki musim hujan pada November hingga Desember, dengan puncak musim hujan diperkirakan terjadi pada Desember 2026 hingga Februari 2027.

Selama potensi hujan masih terbatas, penanganan karhutla di Kalteng dan provinsi rawan lainnya akan mengandalkan kombinasi patroli udara, pemadaman darat, water bombing, serta OMC ketika kondisi awan memungkinkan.

ANTARA