JAKARTA –

BORNEONEWS, Washington - Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan negaranya tidak berupaya mengembangkan atau memiliki senjata nuklir di tengah meningkatnya sorotan internasional terhadap program nuklir Teheran.

Pezeshkian menyampaikan pernyataan tersebut dalam wawancara dengan Fox News, Kamis, 24 September 2026.

Saat ditanya secara langsung mengenai kemungkinan Iran menginginkan bom nuklir, Pezeshkian membantah tegas.

"Sama sekali tidak. Sama sekali tidak," kata Pezeshkian.

Ia mengatakan posisi Iran terhadap senjata pemusnah massal juga berkaitan dengan ketentuan keagamaan yang selama ini dijadikan dasar oleh pemerintah Iran.

Pezeshkian bahkan menyatakan Teheran bersedia membuka ruang bagi verifikasi internasional terhadap program nuklirnya serta mempertimbangkan penurunan tingkat pengayaan uranium sebagai bagian dari upaya meredakan ketegangan.

Pernyataan tersebut muncul ketika hubungan Iran dan Amerika Serikat masih diliputi ketegangan setelah rangkaian serangan militer yang berlangsung sejak awal 2026.

Pezeshkian mengatakan Iran tetap membuka kemungkinan melanjutkan jalur diplomasi jika dilakukan dalam kerangka yang disepakati bersama.

Ia juga menegaskan negaranya tidak menginginkan perang berkepanjangan, tetapi akan tetap mempertahankan diri apabila mendapat serangan.

Konflik antara Iran dan Amerika Serikat turut menjadi salah satu isu utama dalam agenda internasional di tengah berlangsungnya Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa di New York.

Program nuklir Iran sendiri telah lama menjadi perhatian sejumlah negara karena tingkat pengayaan uranium yang dicapai Teheran dinilai jauh melampaui kebutuhan umum untuk pembangkit listrik sipil.

Namun pemerintah Iran secara konsisten menyatakan bahwa program nuklirnya ditujukan untuk kepentingan damai dan bukan untuk menghasilkan senjata nuklir.

Pezeshkian kembali menegaskan bahwa Teheran siap membahas mekanisme pengawasan dan kesepakatan baru sepanjang proses tersebut dilakukan melalui diplomasi.

ANTARA