BORNEONEWS, Beijing - Presiden China Xi Jinping dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump membahas sejumlah isu strategis dalam pertemuan di Gedung Putih, Washington, Kamis, 24 September 2026.
Pembicaraan kedua pemimpin mencakup hubungan China-AS, Taiwan, situasi di Iran dan Timur Tengah, perdagangan, kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), hingga krisis Ukraina dan Semenanjung Korea. Kementerian Luar Negeri China menyatakan pertemuan itu berlangsung dalam rangka kunjungan kenegaraan Xi ke Amerika Serikat.
Dalam isu Taiwan, Xi kembali menyampaikan posisi Beijing mengenai reunifikasi dan integritas wilayah.
Menurut keterangan Kementerian Luar Negeri China, Xi berharap Amerika Serikat tetap menentang kemerdekaan Taiwan dan menangani persoalan tersebut secara hati-hati.
"Presiden Xi menekankan bahwa posisi China dalam menjaga reunifikasi nasional dan integritas wilayah sangatlah tegas dan jelas," demikian keterangan Kementerian Luar Negeri China.
Taiwan selama ini menjadi salah satu isu sensitif dalam hubungan Beijing dan Washington. Pemerintah China menganggap Taiwan sebagai bagian dari wilayahnya, sementara hubungan AS dengan Taiwan menjadi salah satu sumber perbedaan antara Washington dan Beijing.
Selain Taiwan, kedua kepala negara membicarakan perkembangan konflik di Timur Tengah, termasuk hubungan Amerika Serikat dan Iran.
Xi mengatakan China mendukung penyelesaian melalui jalur diplomasi dan mendorong Amerika Serikat serta Iran kembali ke proses perundingan.
China juga mendukung kedua negara kembali menjalankan Nota Kesepahaman atau MoU Islamabad yang sebelumnya menjadi kerangka penghentian permusuhan dan perundingan lanjutan antara Washington dan Teheran.
Xi berharap AS dan Iran dapat mencapai kesepakatan yang lebih komprehensif, termasuk terkait persoalan nuklir.
Dalam hubungan bilateral, Xi menyebut dirinya dan Trump terus berkomunikasi melalui berbagai saluran untuk menjaga stabilitas hubungan kedua negara.
Ia mengatakan China dan Amerika Serikat perlu memperluas bidang kerja sama sembari mengelola perbedaan yang masih ada.
Tim ekonomi dan perdagangan kedua negara juga disebut telah menjalani putaran perundingan baru serta menghasilkan pengaturan bersama.
Menurut Xi, hubungan ekonomi China-AS membutuhkan perluasan bidang kerja sama sekaligus upaya mengurangi persoalan yang menjadi sumber perselisihan.
Isu kecerdasan buatan turut menjadi salah satu agenda pertemuan.
Xi mengatakan China dan Amerika Serikat sama-sama memiliki kemampuan besar dalam pengembangan AI. Meski terdapat persaingan, menurutnya kedua negara juga memiliki ruang untuk bekerja sama.
Dia mendorong dialog mengenai manfaat dan risiko AI sekaligus mencegah penyalahgunaan teknologi tersebut.
Xi juga menekankan bahwa teknologi AI harus tetap berada di bawah kendali manusia dan dikembangkan untuk kepentingan masyarakat.
Dalam keterangan pemerintah China, Trump juga menyatakan kedua negara perlu mempertahankan dialog dan memperkuat kerja sama di bidang AI.
Pertemuan turut membahas sejumlah persoalan internasional dan regional lainnya, termasuk krisis Ukraina dan situasi di Semenanjung Korea.
Kedua pemimpin juga sepakat saling mendukung dalam penyelenggaraan pertemuan para pemimpin APEC dan KTT G20 pada 2026.
Pertemuan Xi dan Trump berlangsung setelah Trump melakukan kunjungan ke China pada Mei 2026. Xi kemudian melakukan kunjungan kenegaraan ke Amerika Serikat pada 23-25 September 2026.
ANTARA









