BORNEONEWS, Palangka Raya - Dinas Kesehatan Kota Palangka Raya mencatat sebanyak 9.747 kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) sejak Juni hingga 24 September 2026 yang terjadi di tengah paparan asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
"Berdasar data Dinkes Kota Palangka Raya, sejak awal Juni sampai dengan 24 September tercatat 9.747 warga terkena ISPA telah menjalani perawatan," kata Kepala BPBD Kota Palangka Raya, Hendrikus Satriya Budi, Jumat 25 September 2026.
Dia menerangkan, dari seluruh kasus ISPA akibat kabut asap kebakaran hutan dan lahan itu sekitar 30 persen kasus terjadi pada bayi dan balita, 40 persen pada kelompok usia dewasa, dan 30 persen pada kelompok lanjut usia (lansia).
"Jumlah masyarakat yang terkena ISPA ini setiap harinya bervariasi. Data Dinkes ini merupakan warga yang ditangani petugas pusat layanan kesehatan baik di puskesmas maupun rumah sakit pemerintah dan pusat layanan kesehatan lainnya," kata Budi.
Dalam rangka mendukung penanganan ISPA, Pemko Palangka Raya juga telah menyiagakan 43 titik Rumah Oksigen yang beroperasi selama 24 jam.
Layanan ini sebagai upaya membantu warga mendapatkan pertolongan awal ketika mengalami gangguan pernapasan akibat paparan kabut asap karhutla.
Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kota Palangka Raya, Riduan menambahkan bahwa layanan tersebut disiapkan pemerintah kota untuk memastikan masyarakat memiliki akses pertolongan kesehatan yang mudah selama kondisi kabut asap masih terjadi.
"Sebanyak 43 titik Rumah Oksigen tersebut tersebar di 11 puskesmas, puskesmas pembantu, serta sejumlah kelurahan di wilayah Kota Palangka Raya. Setiap titik dilengkapi tabung oksigen, dengan sebagian besar lokasi memiliki dua tabung dan sebagian lainnya satu tabung," katanya.
Untuk menjaga layanan tetap berjalan selama 24 jam, Dinas Kesehatan mengerahkan tenaga kesehatan dari puskesmas sesuai wilayah kerja masing-masing.
Pemerintah kota juga menggandeng Universitas Eka Harap dengan melibatkan mahasiswa tingkat akhir untuk membantu pelayanan.
Riduan menegaskan keberadaan Rumah Oksigen merupakan bagian dari respons pemerintah dalam memberikan perlindungan kesehatan sekaligus memastikan warga dapat memperoleh pertolongan awal secara cepat selama kondisi kabut asap.
Masyarakat juga diimbau mengurangi aktivitas di luar rumah saat kualitas udara memburuk akibat paparan asap kebakaran hutan dan lahan.
"Jika harus beraktivitas di luar, masyarakat agar menggunakan masker untuk mengurangi paparan partikel asap yang dapat mengganggu kesehatan, terutama bagi anak-anak, lansia, ibu hamil, dan masyarakat yang memiliki penyakit penyerta," katanya.
Dinkes Palangka Raya juga meminta masyarakat menjaga daya tahan tubuh dengan mengonsumsi makanan bergizi, memperbanyak minum air putih, beristirahat cukup, serta memenuhi kebutuhan vitamin. Langkah tersebut penting dilakukan sebagai upaya menjaga kondisi tubuh selama kualitas udara belum sepenuhnya membaik.
ANTARA









