BORNEONEWS, Kuala Kapuas - Aktivitas kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kapuas masih menunjukkan skala yang tinggi. Data Pos Komando Penanganan Darurat Bencana Kekeringan dan Karhutla Kabupaten Kapuas mencatat 27.580 titik panas terdeteksi sepanjang 1 Januari hingga 24 September 2026.
Data ini mencatat 318 kejadian karhutla dengan luas lahan terbakar mencapai 2.729,52 hektare. Selain itu tim penanganan telah melakukan 282 pemadaman darat dan 89 pengecekan titik panas selama periode tersebut.
Kepala BPBD Kabupaten Kapuas Pangeran S. Pandiangan mengatakan, data tersebut menjadi gambaran perkembangan kejadian karhutla yang terus dipantau oleh posko penanganan darurat.
"Pemantauan dilakukan melalui informasi titik panas serta penanganan langsung di lapangan," ungkapnya, Jumat, 25 September 2026.
Jika dilihat berdasarkan waktu, September menjadi periode dengan jumlah titik panas paling tinggi. Hingga 24 September, tercatat 12.196 titik panas pada bulan tersebut. Jumlah itu setara sekitar 44 persen dari seluruh titik panas yang terdata sejak awal tahun.
Kondisi tersebut masih terlihat pada 24 September. Dalam satu hari, terdeteksi 196 titik panas di sejumlah kecamatan. Mantangai menjadi wilayah dengan jumlah terbanyak, yakni 87 titik, disusul Kapuas Tengah sebanyak 84 titik.
Dari 196 titik panas tersebut, sebagian besar berada pada tingkat kepercayaan medium. Mantangai mencatat 78 titik kategori medium dan sembilan kategori high.
Sedangkan Kapuas Tengah memiliki 74 titik medium dan 10 titik high. Kecamatan lainnya yang terdata yakni Dadahup tiga titik, Kapuas Murung 13 titik, Kapuas Hulu delapan titik, serta Tamban Catur satu titik.
Meski tingginya jumlah titik panas menjadi perhatian, laporan posko mencatat tidak terdapat korban terdampak akibat kejadian karhutla dalam rekapitulasi tersebut.
BPBD bersama unsur terkait tetap melakukan pemantauan, pengecekan titik panas, serta pemadaman darat sebagai bagian dari penanganan karhutla di Kabupaten Kapuas. (SABRIANOOR/R)








